Kamis, 31 Januari 2013

Sepiring Steak Dari Mama


Untuk pertama kalinya saya memberanikan diri saya untuk memposting satu dari beberapa cerpen absurd saya. Ceritanya emang standar, tetapi dijamin keorisinilitasnya. Selamat membaca, kritik dan saran saya terima dengan senang hati.



Sepiring Steak Dari Mama
Oleh: Erlin Wulandari

“Syabil berangkat dulu ya, Ma.” teriak Syabil nyaring

Gadis kecil yang baru berusia 7 tahun itu memang begitu menggemaskan. Syabila Zahira, begitu nama lengkapnya. Namanya memiliki arti bintang berkilauan. Begitu indah bukan? Yah, orangtuanya mengharapkan agar Syabil kelak menjadi bintang yang menyinari keluarganya.

Syabil hanya tinggal berdua bersama ibunya, Farida Rumaisha. Ayah Syabil meninggal sejak ia berusia 2 tahun. Ayahnya mengalami komplikasi penyakit, hingga akhirnya tutup usia di umur 30 tahun. Sejak ayahnya meninggal, keluarga itu mendapatkan cobaan bertubi-tubi. Hutang keluarga itu menumpuk untuk membiayai pengobatan ayah Syabil. Hingga rumah mereka pun lenyap untuk memenuhi hutang-hutang itu. Dulu sebelum ayahnya meninggal keluarga Syabil merupakan keluarga berkecukupan. Ayahnya memiliki usaha konfeksi, namun bisnis itupun tutup karena uang usaha terpakai untuk biaya rumah sakit.
Kini, Syabil dan mamanya tinggal di rumah petak berukuran 4mX6m. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ibu Farida berdagang gorengan. Meskipun untung yang didapatkan tidak seberapa, namun itulah salah satu cara agar keluarga kecil mereka tetap bisa bertahan hidup.
“Hati-hati sayang, belajar yang pinter yaa” jawab mama.


            Pulang sekolah, Syabil membantu mamanya membuat gorengan. Mengupas kulit pisang, mengupas kulit singkong, dan mengupas bawang adalah hal yang rutin ia lakukan. Ia pun sering ikut sang mama menjajakan gorengan.
            “Mama... Syabil udah selesai ngupasnya.”
            “Pinter sekali anak mama, sekarang Syabil ngerjain PR dulu. Katanya nanti mau ikut mama dagang keliling” sahut mama
            “Okeee, Ma.”

Tepat pukul 16.00, Syabil dan mamanya berjalan menyusuri jalanan-jalanan sempit di kampungnya. Satu demi satu gorengan laku terjual. Senyuman tulus selalu mengembang dari bibir mungil Syabil. Hingga akhirnya setelah rasa lelah itu tiba, mama mengajak Syabil untuk beristirahat sejenak di depan sebuah rumah makan. Rupanya, bangunan itu merupakan restaurant yang menjajakan steak. Sesekali Syabil melirik kearah orang-orang yang sedang menikmati steak itu. Sang mama yang melihatnya lalu berkata
            “Sebentar lagi mama ulangtahun, besok mama traktir Syabil makan steak sepuasnya. Sekarang kita jualan dulu ya sayang” ucap mama
            “Beneran, Ma?? Asikkkk, Syabil janji bakal lebih rajin bantuin mama jualan”

Mata ibu Farida pun berkaca-kaca, ia sedih. Bahkan hanya untuk membelikan sepiring steak untuk anak semata wayangnya pun ia tak mampu. Namun, bagaimana dengan janji yang barusan ia lontarkan? Bagaimana mungkin ia bisa menraktir Syabil makan sepuasnya? Ia bahkan belum mampu membayar uang sewa kontrakan, sudah dua bulan ini ia menunggak uang kontrakan. Dan kata pemilik kontrakan itu, kalau bulan depan ia tak dapat membayar. Ia dan Syabil terpaksa harus angkat koper.


Malam pun datang menjelang, Syabil pun sudah bersiap untuk tidur. Sebelum tidur Syabil selalu mengusap-usap celengan kodok kesayanganya. Sebulan lalu ibunya memberikan celengan itu sebagai hadiah karena Syabil mendapatkan peringkat 1 di kelasnya. Koin demi koin ia masukkan mulut Froggy (nama celengan Syabil). Ia berharap koin-koin yang ia kumpulkan dapat terkumpul banyak agar ia bisa membelikan rumah untuk mamanya.

            “Mama, besok kalo celengan Syabil banyak. Syabil mau beliin mama rumah, beliin mama baju baru trus Syabil juga mau ajak mama makan steak setiap hari hehehe” canda Syabil
            “Aminnn, makanya Syabil jangan lupa sholat dan berdoa sama Allah. Biar keinginan Syabil bisa terwujud.” Jawab mama
            “Iya Ma, Syabil berdoa terus kok. Syabil selalu berdoa sama Allah biar Syabil bisa punya uang yang banyaaaaak” sahut Syabil

Ibu Farida hanya dapat memeluk Syabila, putri yang amat ia sayangi. Dalam setiap doanya ibu Farida selalu memohon kepada Tuhan akan dapat membahagiakan putrinya itu. Ia ingin Syabil menikmati masa-masa kecilnya seperti anak-anak lain, bukan malah mengikutinya berdagang setiap hari.


Hari ini ibu Farida sedang tidak enak badan, tubuhnya panas. Badannya lemas. Namun dengan susah payah ia tetap membuat gorengan untuk dijual. Melihat wajah sang mama yang tampak begitu pucat, Syabil menghampiri mama yang sedang berkutat di depan kompor.

            “Mama kenapa? Mama sakit ya? Udah mama istirahat aja, nanti biar Syabil yang jualan. Mama sekarang duduk dulu, biar Syabil buatkan teh hangat” ucap Syabil

Tanpa berkata-kata mama hanya melontarkan senyuman. Ia bangga. Amat bangga. Anaknya tumbuh menjadi anak yang lebih dewasa dibanding umurnya. Sejak kecil Syabil memang terbiasa hidup susah. Namun ia sama sekali tak pernah mengeluh. Bahkan selalu memberikan keceriaan baginya. Syabila memang seperti Bintang. Bintang yang senantiasa membuat orang yang melihatnya tersenyum. Bintang yang senantiasa menyinari hari-hari ibu Farida.

            “Syabil berangkat ya, Ma. Doain Syabil biar gorengannya habis semua. Mama istirahat di rumah. Dadaaa Mamaaaa” ucap Syabil sumringah
            “Hati-hati ya sayang, jangan lupa berdoa dulu sebelum jalan”

Gadis kecil itu pun dengan suka cita membawa baskom kecil berisi gorengan buatan mamanya. Rumah demi rumah. Jalan demi jalan ia lalui.

            “Gorengan gorengan... gorengan hangat 500 aja” teriak Syabil

Seribu, duaribu, tiga ribu, ............... tigapuluhdua ribu.
Syabil tampak menghitung uang sambil duduk di bawah pohon jambu. Gorengannya habis tak bersisa. Wajahnya berseri-seri, dengan wajah penuh bangga ia berjalan pulang ke rumah. Ia tak sabar membawa kabar gembira ini, kabar gembira bahwa gorengannya habis semua. Ia yakin sang mama pasti senang mendengar berita ini.


Beberapa langkah lagi Syabil tiba dirumahnya.
Senyum yang mengembang dibibirnya berubah menjadi wajah penuh ketakutan. Sepertinya ada suara orang berteriak-teriak yang bersumber dari rumahnya. Apa yang terjadi? Ya Allah, lindungilah Mama. Syabil takut .....


            “Cepat bayar uang kontrakan!! Dari kemaren kalo ditagir tarsok tarsok terus. Entar besok entar besok. Kamu pikir kamu tinggal disini gratis??!!! Disana banyak yang ngantri mau ngontrak disini. Kalau kamu nggak bisa bayar cepat kemasi barang kamu!!!!!” teriak bu Maesaroh, pemilik kontrakan.
            “Saya janji besok pagi akan saya bayar, Bu. Tolong jangan usir saya. Saya mohon, Bu.” Pinta mama
            “Halaah, saya udah nggak percaya sama janji kamu!!” jawab bu Mae sambil merampas dompet mama.
            “Jangan ambil uang itu, Bu. Uang itu akan saya pakai untuk membeli steak buat anak saya” ucap mama sambil menangis
            “Halahh, mau bayar kontrakan aja nggak bisa. Pakai gaya-gayaan makan steak.” Sahut bu Mae sambil mendorong ibu Farida hingga tersungkur di lantai.


Mama tertunduk lesu sambil sesekali mengusap air matanya. Ia sudah berjanji membelikan steak untuk Syabil. Ia merasa gagal. Ia merasa gagal menjadi ibu yang baik bagi Syabil. Ia tak bisa membahagiakan anaknya. Ia tak bisa memenuhi janjinya. Ia tak bisa membelikan Syabil steak. Makanan yang sudah lama sekali ingin Syabil nikmati.

            “Mamaaaaaaa......” teriak Syabil sambil menangis memeluk mamanya.

Rupanya daritadi Syabil berdiri dibalik pintu. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sang mama. Satu-satunya orang yang ia sayangi dimaki-maki. Ia melihat usaha mamanya mempertahankan dompetnya. Hanya karena sang mama ingin memenuhi janjinya membelikan steak kepada Syabil di hari ulangtahunnya.

“Syabil udah pulang sayang?? Bagaimana dagangannya? Wah rupanya habis semua ya dagangannya. Anak mama memang hebat!” ucap Mama sambil menghapus air matanya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan anaknya.
“Mama nggak kenapa-kenapa kan? Mama baik-baik aja kan? Syabil sayang sama mama” ucap Syabil yang enggan lepas dari pelukan sang mama.
“Mama nggak kenapa-kenapa kok sayang, ini buktinya mama masih bisa meluk Syabil” ucap mama sambil mengusap dahi Syabil.


Keesokan harinya...

“Selamat ulangtahun, Mama. Syabil sayaaaaaaaang banget sama Mama” ucap Syabil sambil mendaratkan kecupak di kening sang mama.
            “Terimakasih sayang, mama juga sayaaaaaaaaang banget sama Syabil” jawab mama sambil memeluk hangat sang buah hati.

Yaa, hari ini ibu Farida Rumaisha genap berusia 32 tahun. Usia yang masih terbilang muda. Namun, kehidupan yang begitu sulit membuatnya tampak lebih tua. Ia tak ada waktu untuk berdandan layaknya wanita seumurannya. Bahkan tidak pernah terbesit dalam kepalanya untuk mencari pendamping baru. Baginya hidupnya hanya untuk Syabil, untuk anak semata wayang yang begitu ia kasihi.

Mama tak dapat menyembunyikan raut wajah sedihnya. Melamun menatap wajah Syabila yang begitu menyejukkan. Merasa bersalah. Sungguh.

“Kok mama sedih sih?? Mama kan lagi ulangtahun?” tanya Syabil polos
“Maafin mama ya sayang, mama nggak bisa nepatin janji mama. Tapi mama janji. Secepatnya mama bakal beliin Syabil steak” jawab mama
“Asiiikkk. Oh iya, ma. Mama kan hari ini ulangtahun. Syabil ada hadiah buat mama. Nih!” ucap Syabil sambil memberikan hadiah itu.

Ternyata Syabil memberikan Froggy, celengan kodok kesayangannya. Froggy tampak lebih cantik dengan balutan pita di atasnya. Syabil sendiri loh yang memasang pita itu.
Mama tampak bingung setelah menerima kado itu.

“Mama harus terima kado dari Syabil. Kan kalau Froggy dipecah, mama bisa traktir Syabil makan steak. Jadi mama nggak perlu sedih lagi” ucap Syabil sumringah

Mama menitikkan air matanya, terharu mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut gadis kecilnya.

“Ini kan celengan kesayangan Syabil, jadi Syabil simpen aja. Besok kalo celengan ini udah banyak kan Syabil mau beliin rumah buat mama” ucap mama




“Pokoknya ini buat mama, mama nggak boleh nolak!” sahut Syabil
“Tapi kan ....”
“Mama harus terima!!!” ucap Syabil memaksa
“Terimakasih sayang, mama bangga sama Syabil. Mama sayaaaang sekali sama Syabil. Maafin mama ya, mama belum bisa jadi mama yang baik buat Syabil” ucap Mama
“Siapa bilang?? Mama itu mama yang paling hebat di dunia!! Ayooo buruan mama ganti baju. Syabil udah nggak sabar pengen makan steak, Ma” sahut Syabil.


Syabil dan mama berjalan dengan penuh sukacita. Setibanya di restaurant tanpa ba-bi-bu mama langsung memesan steak. Syabil nampak senang sekali, begitu pula dengan mama. Sebelum menyantap steak lezat itu, dalam hati mama berkata Terimakasih ya Allah, terimakasih telah memberikan anak yang berhati mulia kepadaku. Bimbinglah aku agar dapat menjadi ibu yang baik baginya..

            “Sekali lagi, selamat ulang tahun mama. Makasih ya mama udah beliin Syabil sepiring steak ini. I love you mama...” ucap Syabil
            “Terimakasih atas kadonya sayang, love you too” jawab mama

Syabila dan Mama pun menyantap steak itu dengan lahapnya.
Sepiring steak dari mama, akan menjadi kenangan terindah bagi Syabil.

0 komentar:

Posting Komentar