Rabu, 15 Januari 2014

Vehrenica dan Mayrina Masuk Pelatnas, Fans Fitriani Kecewa.





Masih hangat di ingatan para pecinta bulutangkis Indonesia tatkala PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) mengumumkan daftar nama pemain yang masuk ke Pelatnas PBSI dan pemain yang terdegrasi. Banyak nama-nama besar yang angkat koper dari Pelatnas PBSI Cipayung dikarenakan prestasinya yang dinilai kurang memuaskan sehingga terdegrasi, namun ada juga dari mereka yang memang mengundurkan diri dari Pelatnas.

Dari beberapa daftar nama yang masuk sebagai “penghuni baru” Pelatnas PBSI di kelas potensial, ada 2 nama yang cukup mengagetkan yaitu terpilihnya Vehrenica Debora Rumate dan Mayrina Lukmanda sebagai Pemain Tunggal putri potensial baru Pelatnas. Nama-nama yang digadang-gadang masuk ke Pelatnas seperti Fitriani dan Intan Dwi Jayanti malah justru tidak dipanggil. Hal ini yang kelak menjadi perdebatan banyak pihak, yang mengaku kurang puas dengan keputusan PBSI. Banyak pecinta bulutangkis yang menamai dirinya “BL” (Badminton Lovers) berkicau di dunia maya.

Seiring berjalannya waktu, ternyata saat ini masih ada beberapa pihak yang berkicau dengan nada sinisme. Mereka mencecar Bambang Roedyanto (Kasubid Hubungan Internasioal PBSI) melalui akun twitternya @broedyanto dikarena atlet jagoannya yaitu Fitriani tidak masuk ke daftar nama penghuni Pelatnas tahun ini, padahal prestasi Fitri dinilai cemerlang oleh mereka. Mereka mengaku kecewa dengan masuknya Vehrenica dan Mayrina yang oleh para fans Fitriani dianggap tidak lebih baik dibanding Fitri. Beberapa dari mereka ada yang melontarkan kata-kata tidak menyenangkan, dan bahkan mendoakan “buruk” karier Vehrenica dan Mayrina. Lebih parahnya bahkan ada seorang fans Fitriani yang mencurigai masuknya Vehrenica dikarenakan ia menyogok pihak PBSI. Ada juga yang mengungkit-ungkit status ekonomi keluarga Fitriani



Menanggapi itu semua, saya mencoba menanyakan tanggapan dari Vehrenica dan Mayrina mengenai polemik yang masih berkembang.

“Ya kalo aku nanggepin sih mungkin aku sedikit kaget ya ngeliat mereka coment segitu negatifnya tentang aku. Tapi ya namanya orang kan ada yang suka ada yang nggak, aku sendiri aja kaget bisa masuk sini apa lagi orang lain. Sedangkan fitri prestasinya lebih dari aku, malah ngga masuk sini” ungkap Mayrina

Dengan pertanyaan yang sama, saya juga mencoba menanyakan tanggapan Vehrenica, dan berikut jawaban dari Vehren:

“Aku mah nggak ambil pusing kok kak. Terserah mereka mau bilang apa, toh mereka juga cuma coment. Aku nggak kesel kok, wajarlah mereka kan pendukungnya fitriani, jadi otomatis mereka ngedukung Fitriani banget”

Mereka berdua bahkan mengaku kaget ketika mengetahui namanya  masuk dalam daftar penghuni Pelatnas, Mayrina bahkan mengetahui hal itu karena diberitahu temannya. Dan sebelumnya tidak ada kontak dari PBSI mengenai hal tersebut.

Selanjutnya ditanya tentang prestasi dengan nada rendah hari, Vehrenica mengaku prestasi Fitriani memang lebih baik darinya. Selama tahun 2013 ini memang banyak menjadi semifinalis saja di ajang Djarum Sirkuit Nasional (Semifinalis Sirnas Lampung, Bali, Jogja), Vehren juga menjadi semifinalis diajang Popnas 2013. Di akhir tahun lalu, Vehren juga berhasil menjadi juara di ajang Pertamina Open. Dan penutup pertandingan akhir tahun, Vehrenica berhasil menduduki peringkat 2 di ajang Junior Master. Sebetulnya ia tidak terkalahkan di nomor tunggal remaja putri, semua lawan-lawan berhasil ia tekuk. Namun rangkaain akhir Junior Master yaitu tes fisik yang juga menjadi point penilaian penting membuat Vehren harus puas menjadi yang nomor 2, setelah dalam tes fisik point yang ia raih kalah dengan atlet binaan Pelatprov Bali, Made Deya Surya Saraswati.

Sama halnya dengan Vehren, Mayrina mengaku prestasinya di nomor tunggal tahun ini hanya menjadi semifinalis di Djarum Sirnas Semarang dan Surabaya serta menjadi finalis di Sirnas Jogja setelah kalah dengan rekan satu klubnya Nisak Puji Lestari. Sedangkan di ajang Junior Master, di nomor tunggal remaja putri ia menduduki rangking 5. Mayrina menambahkan, prestasinya di nomor ganda bersama Bunga Fitriani jauh lebih baik dibanding di nomor tunggal. Di nomor ganda remaja putri, Mayrina dan Bunga juga berhasil masuk ke 4 besar di ajang Junior Master akhir taun lalu.

Kini sudah sepekan lebih Vehrenica dan Mayrina berlatih di Pelatnas PBSI Cipayung, disanalah tempat atlet-atlet bulutangkis bangsa digembleng. Ditanya mengenai harapan, Vehrenica dan Mayrina kompak menjawab ingin menjadi lebih dan lebih baik lagi dari sebelumnya. Mayrina menambahkan dengan masuknya ia ke Pelatnas ia berharap prestasinya lebih baik lagi, karena ia ingin membanggakan kedua orangtuanya. Sedangkan Vehren mengaku harapan terbesarnya kelak adalah menjadi Juara Dunia. [amin, mari kita doakan sama-sama]

Terlepas dari omongan miring segelintir orang tentang kedua atlet bulutangkis muda ini, tentu saya dan kita seharusnya bersama-sama mendoakan agar Vehrenica, Mayrina dan seluruh atlet-atlet kita agar terus berprestasi demi kemajuan perbulutangkisan tanah air. Tak adil rasanya, bila ada yang menghujat mereka berdua dikarena jagoannya tidak masuk Pelatnas. Vehrenica dan Mayrina masuk Pelatnas juga bukan karena kemauannya sendiri, mereka memang dipilih oleh tim penyeleksi dari PBSI yang memang sudah ahli dibidangnya. Mungkin mereka memang melihat ada potensi besar dalam diri Vehrenica dan Mayrina yang bila dikembangkan akan memiliki hasil yang maksimal. Tak hanya itu, yang ingin saya sampaikan disini adalah Pelatnas bukanlah jalan satu-satunya untuk meraih kesuksesan. Banyak atlet-atlet non-pelatnas yang sukses berkarier secara professional.

Sebagai seorang penikmat bulutangkis, alangkah lebih indah apabila kita tak saling menggunjing dan merasa bahwa atlet idolanya lebih baik. Bagi bersama-sama kita doakan dan dukung mereka, agar kelak dapat menjadi atlet-atlet kebanggaan bangsa yang berprestasi di kancah Internasional. Dukung terus perbulutangkisan tanah air #SalamRaket

Rosyita Eka Putri Sari





Rosyita Eka Putri Sari lahir di Sleman 1996. Rosyita merupakan atlet ganda putri yang turut membawa Indonesia menjadi runner up di kejuaraan bulutangkis bergengsi bertajuk BWF World Junior Championships 2013 / Suhandinata Cup beberapa bulan lalu.
Nah kali ini, saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman saya berkunjung ke rumah Rosyita. Awal mulanya sebenarnya adalah karena ketidaksengajaan saya mendapatkan pin BB Rosyita. Iseng menginvite, eh ternyata di accept [padahal menurut penuturan Rosyita ia tidak pernah mengaccept orang yang tidak ia kenal. and yaa, i’m so lucky]. Dan akhirnya kami terlibat suatu obrolan yang berujung pada permintaan saya untuk berkunjung ke rumah. Karena pada saat itu Rosyita memang sedang berada di Jogja. Dan ternyata permintaan saya ditanggapi positif, Rosyita pun memberikan alamat lengkap rumahnya.

Rabu, 25 Desember 2013 saya mengajak 3 teman saya untuk ikut bertamu ke rumah Rosyita. Kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit hingga akhirnya tiba di daerah Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Di perjalanan menuju rumah Rosyita, mata saya dimanjakan oleh pemandangan hamparan sawah luas nan hijau serta bukit-bukit yang tampak kecil di sudut barat. Daerahnya begitu hijau, segar dan damai. Rumah Rosyita ini terletak di pinggir jalan jadi mudah sekali untuk dicari alamatnya. Kebetulan orangtuanya memiliki usaha toko kelontong dan perbaikan sepeda motor. Bagian depan digunakan untuk usaha sedangkan rumahnya terletak di belakangnya.

Saat itu saya dan teman saya tiba pukul 10.05, kami disambut hangat oleh kedua orangtuanya. Sang ayah dan ibunya begitu ramah. Ayah Rosyita juga sejenak menemani kami berbincang tentang karier anaknya sambil menunggu Rosyita yang saat itu sedang mandi.

Selesai mandi Rosyita pun menemui saya dan teman-teman saya, kami berbincang di ruang tamu rumahnya. Di sudut ruang tamu tampak sebuah etalase yang di dalamnya tertata rapi koleksi piala dan medali yang pernah raih. Dalam perbincangan kami Rosyita bercerita bahwa ia memang sudah gemar bermain bulutangkis sejak kecil. Rosyita kecil sering berlatih bulutangkis di balai desa daerah rumahnya. Berbeda dengan atlet lain yang dimasukkan ke klub oleh orangtuanya atas dasar keinginan orangtua, Rosyita justru meminta sang ayah untuk memasukannya ke sebuah klub bulutangkis yang bernama PB. Purnama. Disanalah Rosyita mulai serius menekuni olahraga tepok bulu angsa itu. Rosyita juga bercerita bahwa ia pernah berlatih di Pusdiklat Yogyakarta dibawah asuhan Mbak Fina. Sebagai informasi Mbak Fina yang bernama lengkap Finarsih merupakan srikandi bulutangkis Indonesia di tahun 1990an yang ikut andil merebut Piala Uber tahun 1994 dari China dan kembali mempertahankannya di tahun 1996.

Setelah berlatih dibawah asuhan Mbak Fina, Rosyita pun mengikuti audisi beasiswa bulutangkis Djarum. Lolos audisi, ia pun harus bermigrasi ke PB Djarum di Jakarta. Disanalah karier Rosyita berkembang. Berpasangan dengan Melati Daeva Oktavianti, Rosyita berhasil menjadi kampiun di Kejuaraan Nasional 2012. Hal tersebut yang membawanya masuk ke daftar penghuni Pelatnas Cipayung di akhir tahun 2012.

Tahun ini, Rosyita yang berpasangan dengan Setyana Mapasa juga menjadi ganda putri utama tim beregu di ajang bergengsi World Junior Championships 2013 di Thailand. Berpasangan dengan Maretha Dea Giovani, Rosyita yang mengaku gemar membaca novel itu juga berhasil menjadi juara di Pertamina Open 2013 setelah berhasil menekuk Nadya Melati dan Dian Fitriani. Beberapa waktu yang lalu,  PBSI mengumumkan daftar nama pemain yang dipanggil dan di degradadi oleh PBSI dan nama Rosyita masih bertengger sebagai salah satu penghuni Pelatnas untuk periode tahun ini.

Di usianya yang masih sangat muda (17 tahun) tentu prestais yang pernah diukir Rosyita dapat dikatakan gemilang. Ia bahkan sering turun di nomor pertandingan dewasa dan beberapa kali menjadi finalis maupun kampiun. Kini per tanggal 02/01/2014, Nama Rosyita Eka Putri Sari nangkring di peringkat 3, Badminton World Federation Junior Rangkings. Sedangkan bersama Melati Daeva, Rosyita duduk di ranking 58 Women's Double BWF World Rankings. Saya sangat berharap kelak Rosyita dapat menjadi atlet kebanggaan Indonesia yang menorehkan tinta emas di berbagai turnamen bergengsi di tingkat Internasional.
Begitulah sepenggal kisah perjalanan karier Rosyita yang dapat saya paparkan. Dukung terus perbulutangkisan Indonesia #SalamRaket