Kamis, 31 Oktober 2013

Rekam Jejak Karier Bulutangkis Variella Aprilsasi Putri Lejarsari







Bulutangkis..

Bulutangkis merupakan salah satu olah raga yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia. Dari anak kecil sampai lansia pun senang sekali memainkan olah raga tepok bulu itu. Apalagi bulutangkis merupakan cabang olahraga yang paling sering mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Banyak atlet Indonesia yang duduk di jajaran atlet top dunia. Dari turnamen besar sekelas Olimpiade maupun Kejuaraan Indonesia, Indonesia memang sudah menorehkan tinta emas. Bulutangkis memang juga menjadi olahraga kebanggan bangsa.

Berbicara mengenai atlet bulutangkis, bagi anda yang awam tentang dunia perbulutangkisan mungkin hanya tau nama-nama besar seperti Susi Susanti, Taufik Hidayat, Alan Budikusuma, dll. Atlet-atlet yang saya tulis diatas saat ini sudah gantung raket, dan mulai digantikan generasi penerusnya. Banyak atlet-atlet muda yang memiliki potensi besar untuk menjadi “bintang” lapangan. Dan salah satu dari atlet muda itu adalah Variella Aprilsasi Putri Lejarsari. Bagi anda yang mengaku pecinta bulutangkis, anda tentu sudah pernah mendengar nama tersebut.

Variella Aprilsasi Putri Lejarsari atau yang kerap disapa Lala, lahir di Malang pada tanggal 6 April 1990. Variella kini berpasangan dengan atlet senior spesialis nomor ganda Vita Marissa. Vita dan Variella memang belum genap berpasangan selama satu tahun, namun record pertandingan mereka bisa dibilang cukup bagus. Bahkan di bulan April lalu, mereka berdua berhasil menyabet gelar juara di turnamen Australia Grand Prix Gold 2013. Gelar juara itu cukup berkesan bagi Variella, karena gelar juara tersebut merupakan kado ulangtahun yang ia berikan untuk dirinya sendiri.

Dan, genap sebulan yang lalu turnamen Indonesia Grand Prix Gold digelar di kota saya, Daerah Istimewa Yogyakarta. Variella dan pasangannya, Vita Marissa tak absen mengikuti turnamen tersebut. Namun sayangnya, mereka harus mengakui keunggulan ganda putri China dan harus puas menjadi semifinalis saja. Jujur, saya baru pertama kalinya melihat permainan Variella secara langsung ketika ajang Indonesia Grand Prix Gold lalu. Dan saya cukup terkesan dengan permainan Variella yang berperan sebagai penggebuk di tim nya. Dari segi postur Variella terbilang cukup tinggi, badannya gagah dan berambut cepak.
Lalu, pada hari Senin 30 September2013, saya berkesempatan untuk menemui Variella di hotel tempatnya meningap selama di Jogja. Kala itu saya ingin menanyakan padanya tentang suka duka menjadi atlet professional (non pelatnas), sebenarnya saya ingin mewawancari Variella dan Vita namun ternyata Vita Marissa sedang pergi ke tempat temannya.

Berbicara mengenai karier, Variella mengaku sudah mengenal bulutangkis sejak kecil. Keluarganya tidak ada background bulutangkis, hanya saja sang Papa memiliki lapangan bulutangkis dan dari situlah ia mulai akrab dengan olah raga tepok bulu itu. Kariernya dimulai ketika Variella masuk ke PB. Djarum di Kudus. Disana dia bermain sebagai pemain tunggal putri. Namun Variella menyebutkan kalau ia tak betah disana, dan memutuskan keluar sekitar tahun 2008. Tak lama setelah keluar dari PB. Djarum, Variella mendapat tawaran untuk memperkuat tim bulutangkis Turki. Mendengar tawaran itu, Variella pun mau menerimanya. Dan bergabung sebagai tim bulutangkis Turki. Variella ikut memperkuat tim bulutangkis Turki di turnamen tingkat Eropa dan lainnya. Hanya saja tak lama setelah itu ia diminta untuk menjadi warga negara Turki dan ia menolaknya. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke tanah airnya Indonesia pada tahun 2009.
Pulang dari Turki, Variella bergabung dengan klub Suryanaga. Dari situlah ia mengikuti seleknas dan akhirnya resmi menjadi atlet binaan PBSI di Pelatnas Cipayung. Tak lagi bermain tunggal, Variella sempat berpasangan dengan Lita Nurlita dan Jenna Gozali. Namun, di Pelatnas ia merasa kalau nasibnya di “gantungkan” dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari Pelatnas dan memilih berkarier secara profesional.

Ketika saya tanya tentang pemasangannya dengan Vita Marissa. Ia menjawab kalau dia memang sudah kenal dengan Ci Vita, dan sering latihan bersama. Lalu, mereka berkomitmen dan mencoba peruntungan untuk bermain di nomor ganda putri bersama. Lalu saya juga tak lupa menanyakan tentang suka dukanya menjadi atlet profesional. Variella mengaku ia ketika masih di Pelatnas ia mendapat “beban” yang cukup berat, dan nasibnya seakan abu abu. Berbeda dengan ketika berkaries profesional, ia mengaku lebih dapat bermain lepas. Masalah mencari sponsor sendiri juga bukan hal begitu ia pusingkan, menurutnya kalau seorang atlet berprestasi sponsor itu akan datang sendirinya. Selain itu kalau bermain secara profesional, atlet dapat menerima panggilan negara lain untuk memperkuat tim nya. Sehingga dapat menambah income mereka, berbeda dengan atlet pelatnas yang tidak diijinkan untuk itu.

Variella sendiri pernah memperkuat tim negara Turki, Bahrain dan New Zealand. Lalu ketika saya tanya tentang fasilitas pelatnas PBSI dibandingkan pelatnas negara sana. Ia mengaku fasilitas di PBSI tidak kalah, malah dapat dikatakan lebih baik. Hanya saja kalau mengenai gaji, negara luar tersebut lebih menjajikan. Menurut Variella, semuanya memang ada kurang lebihnya.

Seperti itulah kira-kira hasil wawancara singkat saya dengan Variella Aprilsasi Putri Lejarsari. Semoga Variella dan siapapun pasangannya kelak akan menjadi atlet yang senantiasa berprestasi dan menjadi atlet kebanggaan bangsa Indonesia.
Maju terus bulutangkis Indonesia!!!

Indonesia Bangga Memilikimu Liliyana Natsir



Liliyana Natsir…
Pemain bulutangkis putri kebanggaan Indonesia ini lahir di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 9 September 1985. Liliyana Natsir merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, putri pasangan Beno Natsir dan Olly Maramis atau Auw Jin Chen. Kakaknya, Kalista Natsir merupakan seorang dokter.
Perjuangan Liliyana hingga bisa mendaki tangga kesuksesan tentu melalui perjuangan panjang. Tetesan peluh keringat, bahksan tetesan air mata menjadi bagian dari sukses kariernya saat ini. Keluarga Liliyana tidak memiliki background bulutangkis, ayah ibunya seorang pengusaha di Manado. Kecintaannya akan bulutangkis bermula saat ia sering bermain bulutangkis di halaman rumahnya. Melihat bakat sang anak, kedua orangtuanya lalu memasukkan Liliyana ke klub bulutangkis PB. Pisok Manado saat ia berumur 9 tahun. Disana bakat bulutangkis Liliyana kian terasah, namun kedua orangtuanya berpendapat kalau anaknya tetap di Manado, karier Liliyana tak akan bisa berkembang.

Kedua orangtua Liliyana memberikan opsi kepada sang putri, apakah ia ingin melanjutkan sekolah atau fokus mengejar karier di dunia bulutangkis. Karena, menurut orangtuanya, jika ia kekeuh melakukan keduanya beriringan, hasilnya tidak akan bagus. Lalu ketika Liliyana mantap memilih untuk fokus mengejar karier di bulutangkis, kedua orangtuanya mengirim Liliyana ke Jakarta untuk bergabung bersama klub PB. Tangkas. Liliyana yang saat itu baru berusia 12 tahun, harus belajar hidup mandiri. Padahal ia dikenal sangat dekat dengan orangtuanya, terlebih kepada sang mama. Bahkan banyak yang menyebutnya “anak mama”. Ketika sang mama akan kembali ke Manado, Liliyana kecil selalu menangis. Sehingga sang mama merasa iba, dan tak tega melihat putri kecilnya hidup sendiri di perantauan. Dan akhirnya, sang mama memutuskan untuk tinggal lebih lama di Jakarta dengan kos di daerah sekitar asrama PB. Tangkas agar ia dapat menjenguk sang putri sewaktu-waktu. Ya 3 bulan lamanya sang ibu rela meninggalkan sang suami dan putri sulungnya, untuk dapat menemani si bungsu Liliyana. Betapa luar biasanya perjuangan Auw Jin Chen kepada anak kesayangannya. Hingga akhirnya tiga bulan itu berlalu, Jin Chen harus sedikit egois. Ia harus melapangkan hatinya, kali ini tangisan Liliyana tak dihiraukannya. Ia ingin putrinya tumbuh jadi anak yang mandiri dan bermental baja, ia pun kembali ke Manado dengan kontroversi yang melandanya. Tak tega memang meninggalkan Liliyana, tetapi keputusan itu harus ia ambil, demi masa depan Liliyana.
Di asrama, Liliyana kerap menangis ketika merindukan keluarganya. Teman-temannya yang kala itu di dominasi warga suku Batak lalu memberi julukan padanya “Butet”. Karena kata mereka, orang yang seperti Liliyana itu kalau disana dipanggil “Butet”. Nama itulah yang kini melekat dengan sosok Liliyana Natsir, semua orang kini memanggilnya dengan julukan Butet.

Prestasi Butet bersama klubnya kian cemerlang, dan membawanya masuk ke Pelatnas PBSI di Cipayung pada tahun 2002. Butet memang dikenal sebagai pemain ganda, baik ganda putri maupun ganda campuran. Butet mengawali kariernya dengan bermain di sektor ganda putri, namun prestasinya dirasa kurang baik dan pelatihnya saat itu Richard Mainaky menawarinya untuk mencoba peruntungan bermain di sektor ganda campuran bersama Nova Widianto. Bersama Nova, karier Butet begitu cemerlang. Butet dan Kedeng (nama panggilan Nova Widianto) berhasil menduduki podium tertinggi Kejuaraan Bulutangkis dunia pada tahun 2005 dan 2007. Ya, dua kali kejuaraan dunia pernah ia raih bersama Nova. Tak hanya itu, Butet dan Nova juga banyak mengoleksi medali dari berbagai turnamen nasional maupun internasional. Butet dan Nova juga menduduki peringkat 3 besar BWF dalam jangka waktu yang cukup lama. Pada tahun 2008, Butet dan Nova juga menyumbangkan medali perak untuk squad merah putih di ajang Olimpiade Beijing. Meski gagal memenuhi target medali emas, namun Butet dan Nova merasa bersyukur atas prestasi yang diraihnya.
Nama Butet juga semakin bersinar kala gelaran Thomas dan Uber Cup yang berlangsung di Jakarta. Butet yang saat itu berpasangan dengan Vita Marissa turut mengantar tim merah putih lolos ke babak final, meski pada akhirnya harus takluk di tangan tim negeri tirai bambu China. Usai pergelaran Thomas Uber Cup, Butet dan Vita pun tampil cemerlang pada turnamen Indonesia Open 2008, keduanya berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia setelah di final berhasilnya menaklukkan pasangan ganda putri Jepang.
Ingin fokus di sektor ganda campuran, Butet kemudian bercerai dengan Vita Marissa. Bersama Nova, Butet pun tak absen mengikuti turnamen-turnamen bergengsi Internasional. Hingga akhirnya Nova Widianto memilih gantung raket, dan kemudian Pelatnas memasangkan Butet dengan pemain muda Tontowi Ahmad. Pelan tapi pasti, Butet dan Owi mulai menorehkan prestasi yang membanggakan. Bersama Tontowi, Butet berhasil meraih gelar juara secara berturut-turut di ajang bergengsi All England. Butet dan Owi bahkan meraih juara selama 3 kali berturut-turut di ajang India Open, dan puncaknya adalah ketika mereka berdua berhasil meraih gelar juara di Kejuaraan Dunia bulutangkis yang di gelar di Guangzhou, China, bulan Agustus lalu.
Butet tampak begitu senang, hingga tak menyadari bahwa air mata itu menggenangi matanya, ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya di kumandangkan. Ini merupakan gelar juara dunia pertamanya selama berpasangan Tontowi Ahmad, namun ini juga merupakan jelar juara ke TIGA nya di ajang bergengsi BWF World Championships.

Entah berapa banyak medali yang tersimpan dirumahnya, mungkin bisa jadi ratusan medali pernah ia dapatkan selama belasan tahun kariernya di dunia bulutangkis. Dengan segudang prestasi yang ditorehkannya, Liliyana layak dikatakan pahlawan bulutangkis Indonesia. Dikuti dari portal resmi bulutangkis Indonesia, Ketua Umum PB. Tangkas, Justian Suhandinata menyebutkan bahwa Liliyana Natsir patut dijadikan teladan bagi para pemain muda. Kerja keras dan segala pengorbanan yang Liliyana lakukan, harus dicontoh oleh para pemain muda. Justian tentu mengenal Butet ketika ia masih belia, dan Justian kini juga dapat melihat secara langsung buah manis dari perjuangan yang dilakukan seorang Liliyana Natsir. Namanya kini begitu harum, ukiran prestasi yang ia persembahkan bagi bangsa dan negara sungguh layak diapreasi. Namun, Liliyana Natsir dan begitu pula atlet lainnya tetaplah manusia biasa. Mereka juga bisa kalah, ia juga bisa melakukan kesalahan. Namun janganlah kalian menghinanya, karena jika anda menghina mereka disaat mereka kalah, jangan sekali-kali anda ikut bersorak ketika mereka menang.

Ya, Liliyana kini memang telah menjadi “bintang” di lapangan. Namanya begitu di elu-elukan oleh Butetholic, sebutan bagi fansnya. Di setiap pertandingan, banyak orang yang meneriak-neriakkan namanya. Butet kini tak lagi menjadi anak kecil yang cengeng ketika rindu mamanya. Butet kini menjelma menjadi sosok idola remaja, kisah hidupnya begitu menginspirasi. Butet memang layak di sebut legenda hidup bulutangkis Indonesia. Dan saya yakin, jika negara ini bisa berbicara, maka saya yakin Indonesia dengan lantang akan berkata: Indonesia bangga memilikimu, Liliyana Natsir!
Salam raket dan cintai bulutangkis Indonesia!
referensi: badmintonindonesia.org, antaranews.com dan jawaban.com

Mengenal Sosok Muhammad Bayu Bangisthu



Penyelenggaraan Indonesia Grand Prix Gold 2013 kemarin begitu membekas di hati saya. Pasalnya setelah sekian lama menggemari olah raga tepok bulu angsa itu, saya baru berkesempatan menonton pertandingan bulutangkis level Internasional pada saat Indonesia Grand Prix Gold 2013. Senang rasanya ketika melihat para atlet yang tadinya hanya dapat saya lihat melalui lacar kaca dapat kita lihat secara langsung. Dan, kala itu mata saya tertuju pada seorang pemain muda berparas tampan bernama Muhammad Bayu Pangisthu.
Jujur, inilah kali pertama saya melihat sosok Bayu secara langsung. Dengan skill yang memadai,wajah rupawan dan postur tubuh yang tinggi membuat siapapun wanita mudah jatuh hati padanya. Ya, parasnya yang menyerupai bintang Korea mampu membius hati para Badminton Lovers Indonesia. Hal itu pula yang membuat saya penasaran akan sosok seorang M. Bayu Pangisthu. Hingga proses pengintaian itu saya dan teman saya lakukan. Hingga akhirnya, saya berhasil mewawancarai singkat kakak Bayu, bernama Rury Octari Dinata melalui social media bertajuk LINE.
Muhamaad Bayu Pangisthu lahir di Medan, 24 Februari 1996. Menurut Rury Octari, keluarga mereka tidak ada latar belakang bulutangkis. Ketika ayahnya ditugaskan ke kota Jogja, Bayu yang saat itu masih duduk di TK sudah mulai mengenal bulutangkis. Kala itu bayu sudah mencoba-coba memegang raket. Namun Bayu belum berencana menekuni olahraga bulutangkis karena ia masih senang bermain sepak bola. Lalu ketika pindah lagi ke Medan, saat itu Bayu duduk di kelas 3 SD. Dan di sekolahnya sedang gencar-gencarnya diterapkan sistem ekstrakulikuler. Nah, dari situ Bayu memilih untuk masuk ekskul bulutangkis di sekolah. Dari situlah bakat Bayu mulai tampak. Guru olahraganya berkata pada orangtua Bayu kalau Bayu memang punya bakat bulutangkis. Menurut sang kakak, Bayu kecil diajak gurunya mengikuti lomba bulutangkis antar sekolah dan hasilnya sangat menggembirakan. Ya, Bayu memenangkan pertandingan itu sampai akhirnya ia direkomendasikan untuk mengikuti latian rutin bulutangkis.Lama menjalani latian privat, Bayu pun akhirnya masuk ke salah satu klub bulutangkis di Medan.
Lalu, pada tahun 2009 Djarum mengadakan seleksi beasiswa bulutangkis. Dengan tekadnya yang sudah kuat, Bayu mengikuti seleksi itu dan setelah melalui beberapa tahap seleksi akhirnya ia lolos dan resmi menjadi atlet binaan PB. Djarum di Kudus. Sang kakak menambahkan dari dulu Bayu memang sudah mempunyai cita-cita dan mimpi. Setiap kali pulang latihan atau ketika ingin berangkat latihan, waktu mandi dia selalu bernyanyi dengan lirik “djarum rumahku….pelatnas tujuanku…”. Lirik yang sering ia nyanyikan itu ternyata berbuah manis, kurang lebih setahun yang lalu Bayu resmi menjadi atlet yang mendiami Pelatnas Cipayung. Nah, buat adek-adek junior, boleh tuh meniru cara kak Bayu. Menyanyikan mimpi dan cita-citanya, siapa tau mimpi yang dinyanyikan bisa terwujud.
Setelah membicarkan sepenggal perjalanan karier Bayu, saatnya kita mengenal pribadi Bayu lebih dekat. Menurut sang kakak, Bayu itu sosok anak yang jail dan usil sekali. Kakaknya menambahkan kalau tidak wajar rasanya kalau tidak ada suara jeritan, disaat Bayu berada dirumah. Tetapi sekarang Bayu sudah tumbuh menjadi anak yang mandiri, secara pemikiran dia lebih dewasa. Berbeda dengan dulu, Bayu kecil merupakan sosok yang manja, makan saja harus disuapin dan apa-apa harus disedian ibu. Selain itu Bayu itu orangnya royal, tidak pandang bulu siapa saja yang datang kerumah pasti dibeliin makanan. Lalu, setiap pergi kemana saja, Bayu selalu membawa buah tangan. Anak kedua dari 3 bersaudara ini juga merupakan sosok yang begitu dekat dengan keluarga. Meskipun setelah memutuskan masuk ke PB. Djarum dan masuk Pelatnas intensitas bertemu dengan keluarganya tentu berkurang. Namun ia terus menjalin komunikasi dengan keluarganya
Selain bulutangkis, Bayu ternyata juga memiliki hobby lain. Beberapa diantaranya adalah futsal, sepak bola, main playstation, dan nyanyi di kamar mandi. Kalau urusan makanan, Bayu memiliki banyak sekali makanan favorit seperti nasi padang, ikan sambel, dendeng balado, rendang, sate kerang, kerang rebus, sayur asem dan sate padang. Wah, banyak sekali makanan favoritnyaaaa…
Mengenai status, kata sang kakak saat ini Bayu masih jomblo. Namun keluarganya malah mendukung status jomblonya Bayu, keluarga beranggapan dengan statusnya yang jomblo, Bayu jadi lebih bisa fokus sama karier bulutangkisnya. Nah, buat yang mau daftar jadi pacarnya Bayu, sabar yah. Biarkan Bayu fokus mengejar cita-citanya dulu.
Demikian, sepenggal kisah mengenai Muhammad Bayu Pangisthu. Semoga menambah wawasan anda mengenai sosoknya. Doakan saja, semoga karier Bayu kian cemerlang. Dan dapat mengekor prestasi seniornya, Taufik Hidayat. Sukses selalu Bayu, masa depanmu masih panjang. Terus berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia ya!
Note: Big thanks to Kak Rury Octari Dinata atas waktunya.

Vita Marissa, Legenda Hidup Bulutangkis Indonesia



Vita Marissa..
Nama tersebut tentu sudah tak asing bagi para pecinta bulutangkis tanah air. Kiprah Vita Marissa dalam perbulutangkisan tanah air tentu sudah diketahui oleh khalayak ramai. Atlet senior Indonesia spesialis nomor ganda ini, lahir di Jakarta pada tanggal 04 Januari 1981. Vita Marissa mulai menggemari bulutangkis di usia 6 tahun, hal itu yang membuat sang ayah Aris Harsono mulai melihat bakat yang tumbuh dalam diri putri bungsunya. Hingga akhirnya ketika umur 8 tahun, sang ayah memasukkan Vita kecil ke salah satu klub bulutangkis di Jakarta. Sempat berpindah-pindah klub, pada tahun 1993 atau di usianya yang menginjak 12 tahun, ia bergabung di PB. Tangkas. Menunjukkan progress yang baik, pada tahun 1996 pun Vita Marissa resmi bergabung menjadi atlet binaan Pelatnas Cipayung.
Vita Marissa sempat bergonta ganti pasangan, tercatat beberapa nama besar pernah menjadi partnernya di lapangan. Dan pada tahun 2001, bersama Deyana Lomban, Vita mampu berdiri di podium teratas Indonesia Open. Selain itu Vita Marissa juga pernah berpasangan dengan mantan Juara Dunia Ganda Campuran 2005 dan 2007, Nova Widianto. Bersama Nova, Vita mampu menduduki peringkat 5 besar BWF. Namun, bukan manusia namanya kalau tidak pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Vita Marissa sempat mengalami cedera bahu yang cukup parah di tahun 2004, hal tersebut membuat performanya tak sempurna. Di Olimpiade Athena 2004 yang ia ikuti bersama Nova, langkah mereka terhenti di babak perempat final. Cederanya tersebut memaksa Vita untuk melakukan operasi dan harus rehat sejenak dalam dunia bulutangkis. Ia juga harus menerima nasib, kalau ia harus diceraikan dengan partnernya saat itu Nova Widianto. Bercerai dari Vita Marissa, Nova Widianto pun kemudian dipasangkan dengan Liliyana Natsir.
Pulih dari cedera, semangat Vita Marissa begitu membara. Ia pun kemudian dipasangkan dengan Flandy Limpele. Bersama Flandy, Vita mampu menorehkan prestasi gemilang, diantaranya: Juara Japan Open 2006, Juara Indonesia Open 2007, Juara Singapura Open 2007, Juara Prancis Open 2007, Juara Taiwan Open 2007, Juara SEA Games 2007, Juara Asia 2008, Juara India Open 2009. Vita dan Flandy juga menjadi semifinalis di ajang bergengsi Olimpiade Beijing 2008.
Selain itu, Vita Marissa juga pernah dipasangkan dengan Liliyana Natsir. Kedua bahkan pernah menyabet medali emas di ajang China Master 2007, setelah berhasil menumbangkan pemain negeri tirai bambu yang berlaku sebagai tuan rumah. Vita dan Butet, panggilan akrab Liliyana juga tampil begitu mempesona diajang Uber Cup 2008 yang di gelar di Indonesia. Keduanya mampu mengantar tim putri tanah air melaju ke babak final, meskipun pada akhirnya mereka harus puas menyandang gelar runner up setelah tak mampu membendung perlawanan tim negeri tirai bambu yang begitu luar biasa. Tak lama setelah itu, Vita dan Liliyana juga mampu mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di ajang Indonesia Open Super Series 2008, setelah di babak final mampu mengalahkan pasangan dari Jepang. Selain nama-nama tersebut, Vita juga tercatat pernah berpasangan dengan Devin Lahardi, Nadya Melati, Mona Santoso, Greysia Polii, Hendra Aprida Gunawan, Muhammad Rijal, dll.
Tahun ini, Vita Marissa genap berumur 32 tahun. Usia yang bisa dibilang tak lagi muda. Namun semangat dan motivasinya sungguh luar biasa. Meskipun banyak atlet seusianya yang memilih gantung raket, Vita Marissa masih berkontribusi untuk olahraga yang telah melambungkan namanya. Vita kini masih eksis di dunia perbulutangkisan, bahkan ia bermain rangkap di sektor ganda putri dan ganda campuran. Di sektor ganda putra, Vita kini berpasangan dengan Praveen Jordan. Sedangkan di sektor ganda putri, Vita kini berpasangan dengan atlet asal Kota Malang, Variella Aprilsasi Putri Lejarsari. Bermain dengan pemain muda, tentu bukan hal yang mudah baginya. Sebagai senior, Vita harus berperan ganda. Tak hanya sebagai pasangan di lapangan, Vita juga harus berperan sebagai teman baik di dalam dan di luar lapangan bagi partnernya, Vita juga terkadang harus mampu menjadi mentor yang memberikan arahan-arahkan bagi juniornya. Meskipun demikian Vita tak lantas bersikap bak diktator. Ia berusaha agar partnernya tak “takut” dengan nama besarnya. Karena kalau tidak ada kedekatan serta chemistry diantara kedua, tentu mereka tak dapat bermain dengan nyaman.
Pada tahun ini pun Vita berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan pasangan “muda” nya tersebut. Bersama Lala, sapaan akrab Variella Aprilsasi, mereka mampu menjadi juara di ajang Australia Open Grand Prix 2013. Sedangkan bersama Jordan, Vita mampu mempersembahkan 3 gelar di tahun ini, yaitu dia ajang New Zealand Grand Prix 2013, Malaysia Open Grand Prix 2013 serta yang terakhir Vita dan Jordan berhasil menjadi juara di ajang Indonesia Grand Prix Gold 2013 yang digelar di kota Yogyakarta akhir bulan lalu, setelah di final berhasil mengalahkan Juara Dunia 2013 sekaligus mantan partnernya Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad.
Kebetulan saat itu saya turut menyaksikan ajang Indonesia Grand Prix Gold 2013, dan itu merupakan kali pertama saya bertemu dengan seorang Vita Marissa. Dengan nama besar yang disandangnya, ternyata tak lantas membuat Vita Marissa menjadi pemain yang sombong. Vita bahkan begitu ramahnya bersedia melayani permintaan para fans untuk berfoto dan tanda tangan. Dan saya merupakan salah satu orang yang beruntung befoto dengan pebulutangkis senior tanah air. Vita bak sosok pahlawan masa kini dengan segala kerendahan hati. Belasan tahun ia berkiprah di dunia bulutangkis, dan belasan tahun pula jutaan peluh keringat berjatuhan kala ia berusaha mengharumkan nama negara dengan prestasinya dalam olah raga tepok bulu angsa. Sebagian besar hidupnya ia tuangkan untuk bulutangkis. Ya, Vita Marissa hidup untuk bulutangkis. Torehan prestasinya membuat kita dan saya khususnya merasa bangga. Bangga rasanya negeri ini memiliki sosok pahlawan olahraga yang begitu bersahaja. Dengan semua prestasi yang di ukirnya, Vita Marissa memang layak di sebut “Legenda Hidup Bulutangkis Indonesia”.
Terima kasih atas segala kontribusimu untuk bulutangkis Indonesia, Ci Vita. Sukses untuk kariermu bersama pasanganmu kini. Janganlah lelah berjuang demi nama baik bangsa, dan saya yakin namamu terukir indah di relung hati para pecinta bulutangkis Indonesia.
Salam raket! Dan terus cintai bulutangkis Indonesia!
Referensi: antaranews, bulutangkis.com, djarumbadminton.com, badmintonindonesia.org