Kamis, 31 Oktober 2013

Indonesia Bangga Memilikimu Liliyana Natsir



Liliyana Natsir…
Pemain bulutangkis putri kebanggaan Indonesia ini lahir di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 9 September 1985. Liliyana Natsir merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, putri pasangan Beno Natsir dan Olly Maramis atau Auw Jin Chen. Kakaknya, Kalista Natsir merupakan seorang dokter.
Perjuangan Liliyana hingga bisa mendaki tangga kesuksesan tentu melalui perjuangan panjang. Tetesan peluh keringat, bahksan tetesan air mata menjadi bagian dari sukses kariernya saat ini. Keluarga Liliyana tidak memiliki background bulutangkis, ayah ibunya seorang pengusaha di Manado. Kecintaannya akan bulutangkis bermula saat ia sering bermain bulutangkis di halaman rumahnya. Melihat bakat sang anak, kedua orangtuanya lalu memasukkan Liliyana ke klub bulutangkis PB. Pisok Manado saat ia berumur 9 tahun. Disana bakat bulutangkis Liliyana kian terasah, namun kedua orangtuanya berpendapat kalau anaknya tetap di Manado, karier Liliyana tak akan bisa berkembang.

Kedua orangtua Liliyana memberikan opsi kepada sang putri, apakah ia ingin melanjutkan sekolah atau fokus mengejar karier di dunia bulutangkis. Karena, menurut orangtuanya, jika ia kekeuh melakukan keduanya beriringan, hasilnya tidak akan bagus. Lalu ketika Liliyana mantap memilih untuk fokus mengejar karier di bulutangkis, kedua orangtuanya mengirim Liliyana ke Jakarta untuk bergabung bersama klub PB. Tangkas. Liliyana yang saat itu baru berusia 12 tahun, harus belajar hidup mandiri. Padahal ia dikenal sangat dekat dengan orangtuanya, terlebih kepada sang mama. Bahkan banyak yang menyebutnya “anak mama”. Ketika sang mama akan kembali ke Manado, Liliyana kecil selalu menangis. Sehingga sang mama merasa iba, dan tak tega melihat putri kecilnya hidup sendiri di perantauan. Dan akhirnya, sang mama memutuskan untuk tinggal lebih lama di Jakarta dengan kos di daerah sekitar asrama PB. Tangkas agar ia dapat menjenguk sang putri sewaktu-waktu. Ya 3 bulan lamanya sang ibu rela meninggalkan sang suami dan putri sulungnya, untuk dapat menemani si bungsu Liliyana. Betapa luar biasanya perjuangan Auw Jin Chen kepada anak kesayangannya. Hingga akhirnya tiga bulan itu berlalu, Jin Chen harus sedikit egois. Ia harus melapangkan hatinya, kali ini tangisan Liliyana tak dihiraukannya. Ia ingin putrinya tumbuh jadi anak yang mandiri dan bermental baja, ia pun kembali ke Manado dengan kontroversi yang melandanya. Tak tega memang meninggalkan Liliyana, tetapi keputusan itu harus ia ambil, demi masa depan Liliyana.
Di asrama, Liliyana kerap menangis ketika merindukan keluarganya. Teman-temannya yang kala itu di dominasi warga suku Batak lalu memberi julukan padanya “Butet”. Karena kata mereka, orang yang seperti Liliyana itu kalau disana dipanggil “Butet”. Nama itulah yang kini melekat dengan sosok Liliyana Natsir, semua orang kini memanggilnya dengan julukan Butet.

Prestasi Butet bersama klubnya kian cemerlang, dan membawanya masuk ke Pelatnas PBSI di Cipayung pada tahun 2002. Butet memang dikenal sebagai pemain ganda, baik ganda putri maupun ganda campuran. Butet mengawali kariernya dengan bermain di sektor ganda putri, namun prestasinya dirasa kurang baik dan pelatihnya saat itu Richard Mainaky menawarinya untuk mencoba peruntungan bermain di sektor ganda campuran bersama Nova Widianto. Bersama Nova, karier Butet begitu cemerlang. Butet dan Kedeng (nama panggilan Nova Widianto) berhasil menduduki podium tertinggi Kejuaraan Bulutangkis dunia pada tahun 2005 dan 2007. Ya, dua kali kejuaraan dunia pernah ia raih bersama Nova. Tak hanya itu, Butet dan Nova juga banyak mengoleksi medali dari berbagai turnamen nasional maupun internasional. Butet dan Nova juga menduduki peringkat 3 besar BWF dalam jangka waktu yang cukup lama. Pada tahun 2008, Butet dan Nova juga menyumbangkan medali perak untuk squad merah putih di ajang Olimpiade Beijing. Meski gagal memenuhi target medali emas, namun Butet dan Nova merasa bersyukur atas prestasi yang diraihnya.
Nama Butet juga semakin bersinar kala gelaran Thomas dan Uber Cup yang berlangsung di Jakarta. Butet yang saat itu berpasangan dengan Vita Marissa turut mengantar tim merah putih lolos ke babak final, meski pada akhirnya harus takluk di tangan tim negeri tirai bambu China. Usai pergelaran Thomas Uber Cup, Butet dan Vita pun tampil cemerlang pada turnamen Indonesia Open 2008, keduanya berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia setelah di final berhasilnya menaklukkan pasangan ganda putri Jepang.
Ingin fokus di sektor ganda campuran, Butet kemudian bercerai dengan Vita Marissa. Bersama Nova, Butet pun tak absen mengikuti turnamen-turnamen bergengsi Internasional. Hingga akhirnya Nova Widianto memilih gantung raket, dan kemudian Pelatnas memasangkan Butet dengan pemain muda Tontowi Ahmad. Pelan tapi pasti, Butet dan Owi mulai menorehkan prestasi yang membanggakan. Bersama Tontowi, Butet berhasil meraih gelar juara secara berturut-turut di ajang bergengsi All England. Butet dan Owi bahkan meraih juara selama 3 kali berturut-turut di ajang India Open, dan puncaknya adalah ketika mereka berdua berhasil meraih gelar juara di Kejuaraan Dunia bulutangkis yang di gelar di Guangzhou, China, bulan Agustus lalu.
Butet tampak begitu senang, hingga tak menyadari bahwa air mata itu menggenangi matanya, ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya di kumandangkan. Ini merupakan gelar juara dunia pertamanya selama berpasangan Tontowi Ahmad, namun ini juga merupakan jelar juara ke TIGA nya di ajang bergengsi BWF World Championships.

Entah berapa banyak medali yang tersimpan dirumahnya, mungkin bisa jadi ratusan medali pernah ia dapatkan selama belasan tahun kariernya di dunia bulutangkis. Dengan segudang prestasi yang ditorehkannya, Liliyana layak dikatakan pahlawan bulutangkis Indonesia. Dikuti dari portal resmi bulutangkis Indonesia, Ketua Umum PB. Tangkas, Justian Suhandinata menyebutkan bahwa Liliyana Natsir patut dijadikan teladan bagi para pemain muda. Kerja keras dan segala pengorbanan yang Liliyana lakukan, harus dicontoh oleh para pemain muda. Justian tentu mengenal Butet ketika ia masih belia, dan Justian kini juga dapat melihat secara langsung buah manis dari perjuangan yang dilakukan seorang Liliyana Natsir. Namanya kini begitu harum, ukiran prestasi yang ia persembahkan bagi bangsa dan negara sungguh layak diapreasi. Namun, Liliyana Natsir dan begitu pula atlet lainnya tetaplah manusia biasa. Mereka juga bisa kalah, ia juga bisa melakukan kesalahan. Namun janganlah kalian menghinanya, karena jika anda menghina mereka disaat mereka kalah, jangan sekali-kali anda ikut bersorak ketika mereka menang.

Ya, Liliyana kini memang telah menjadi “bintang” di lapangan. Namanya begitu di elu-elukan oleh Butetholic, sebutan bagi fansnya. Di setiap pertandingan, banyak orang yang meneriak-neriakkan namanya. Butet kini tak lagi menjadi anak kecil yang cengeng ketika rindu mamanya. Butet kini menjelma menjadi sosok idola remaja, kisah hidupnya begitu menginspirasi. Butet memang layak di sebut legenda hidup bulutangkis Indonesia. Dan saya yakin, jika negara ini bisa berbicara, maka saya yakin Indonesia dengan lantang akan berkata: Indonesia bangga memilikimu, Liliyana Natsir!
Salam raket dan cintai bulutangkis Indonesia!
referensi: badmintonindonesia.org, antaranews.com dan jawaban.com

0 komentar:

Posting Komentar