Rabu, 15 Januari 2014

Vehrenica dan Mayrina Masuk Pelatnas, Fans Fitriani Kecewa.





Masih hangat di ingatan para pecinta bulutangkis Indonesia tatkala PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) mengumumkan daftar nama pemain yang masuk ke Pelatnas PBSI dan pemain yang terdegrasi. Banyak nama-nama besar yang angkat koper dari Pelatnas PBSI Cipayung dikarenakan prestasinya yang dinilai kurang memuaskan sehingga terdegrasi, namun ada juga dari mereka yang memang mengundurkan diri dari Pelatnas.

Dari beberapa daftar nama yang masuk sebagai “penghuni baru” Pelatnas PBSI di kelas potensial, ada 2 nama yang cukup mengagetkan yaitu terpilihnya Vehrenica Debora Rumate dan Mayrina Lukmanda sebagai Pemain Tunggal putri potensial baru Pelatnas. Nama-nama yang digadang-gadang masuk ke Pelatnas seperti Fitriani dan Intan Dwi Jayanti malah justru tidak dipanggil. Hal ini yang kelak menjadi perdebatan banyak pihak, yang mengaku kurang puas dengan keputusan PBSI. Banyak pecinta bulutangkis yang menamai dirinya “BL” (Badminton Lovers) berkicau di dunia maya.

Seiring berjalannya waktu, ternyata saat ini masih ada beberapa pihak yang berkicau dengan nada sinisme. Mereka mencecar Bambang Roedyanto (Kasubid Hubungan Internasioal PBSI) melalui akun twitternya @broedyanto dikarena atlet jagoannya yaitu Fitriani tidak masuk ke daftar nama penghuni Pelatnas tahun ini, padahal prestasi Fitri dinilai cemerlang oleh mereka. Mereka mengaku kecewa dengan masuknya Vehrenica dan Mayrina yang oleh para fans Fitriani dianggap tidak lebih baik dibanding Fitri. Beberapa dari mereka ada yang melontarkan kata-kata tidak menyenangkan, dan bahkan mendoakan “buruk” karier Vehrenica dan Mayrina. Lebih parahnya bahkan ada seorang fans Fitriani yang mencurigai masuknya Vehrenica dikarenakan ia menyogok pihak PBSI. Ada juga yang mengungkit-ungkit status ekonomi keluarga Fitriani



Menanggapi itu semua, saya mencoba menanyakan tanggapan dari Vehrenica dan Mayrina mengenai polemik yang masih berkembang.

“Ya kalo aku nanggepin sih mungkin aku sedikit kaget ya ngeliat mereka coment segitu negatifnya tentang aku. Tapi ya namanya orang kan ada yang suka ada yang nggak, aku sendiri aja kaget bisa masuk sini apa lagi orang lain. Sedangkan fitri prestasinya lebih dari aku, malah ngga masuk sini” ungkap Mayrina

Dengan pertanyaan yang sama, saya juga mencoba menanyakan tanggapan Vehrenica, dan berikut jawaban dari Vehren:

“Aku mah nggak ambil pusing kok kak. Terserah mereka mau bilang apa, toh mereka juga cuma coment. Aku nggak kesel kok, wajarlah mereka kan pendukungnya fitriani, jadi otomatis mereka ngedukung Fitriani banget”

Mereka berdua bahkan mengaku kaget ketika mengetahui namanya  masuk dalam daftar penghuni Pelatnas, Mayrina bahkan mengetahui hal itu karena diberitahu temannya. Dan sebelumnya tidak ada kontak dari PBSI mengenai hal tersebut.

Selanjutnya ditanya tentang prestasi dengan nada rendah hari, Vehrenica mengaku prestasi Fitriani memang lebih baik darinya. Selama tahun 2013 ini memang banyak menjadi semifinalis saja di ajang Djarum Sirkuit Nasional (Semifinalis Sirnas Lampung, Bali, Jogja), Vehren juga menjadi semifinalis diajang Popnas 2013. Di akhir tahun lalu, Vehren juga berhasil menjadi juara di ajang Pertamina Open. Dan penutup pertandingan akhir tahun, Vehrenica berhasil menduduki peringkat 2 di ajang Junior Master. Sebetulnya ia tidak terkalahkan di nomor tunggal remaja putri, semua lawan-lawan berhasil ia tekuk. Namun rangkaain akhir Junior Master yaitu tes fisik yang juga menjadi point penilaian penting membuat Vehren harus puas menjadi yang nomor 2, setelah dalam tes fisik point yang ia raih kalah dengan atlet binaan Pelatprov Bali, Made Deya Surya Saraswati.

Sama halnya dengan Vehren, Mayrina mengaku prestasinya di nomor tunggal tahun ini hanya menjadi semifinalis di Djarum Sirnas Semarang dan Surabaya serta menjadi finalis di Sirnas Jogja setelah kalah dengan rekan satu klubnya Nisak Puji Lestari. Sedangkan di ajang Junior Master, di nomor tunggal remaja putri ia menduduki rangking 5. Mayrina menambahkan, prestasinya di nomor ganda bersama Bunga Fitriani jauh lebih baik dibanding di nomor tunggal. Di nomor ganda remaja putri, Mayrina dan Bunga juga berhasil masuk ke 4 besar di ajang Junior Master akhir taun lalu.

Kini sudah sepekan lebih Vehrenica dan Mayrina berlatih di Pelatnas PBSI Cipayung, disanalah tempat atlet-atlet bulutangkis bangsa digembleng. Ditanya mengenai harapan, Vehrenica dan Mayrina kompak menjawab ingin menjadi lebih dan lebih baik lagi dari sebelumnya. Mayrina menambahkan dengan masuknya ia ke Pelatnas ia berharap prestasinya lebih baik lagi, karena ia ingin membanggakan kedua orangtuanya. Sedangkan Vehren mengaku harapan terbesarnya kelak adalah menjadi Juara Dunia. [amin, mari kita doakan sama-sama]

Terlepas dari omongan miring segelintir orang tentang kedua atlet bulutangkis muda ini, tentu saya dan kita seharusnya bersama-sama mendoakan agar Vehrenica, Mayrina dan seluruh atlet-atlet kita agar terus berprestasi demi kemajuan perbulutangkisan tanah air. Tak adil rasanya, bila ada yang menghujat mereka berdua dikarena jagoannya tidak masuk Pelatnas. Vehrenica dan Mayrina masuk Pelatnas juga bukan karena kemauannya sendiri, mereka memang dipilih oleh tim penyeleksi dari PBSI yang memang sudah ahli dibidangnya. Mungkin mereka memang melihat ada potensi besar dalam diri Vehrenica dan Mayrina yang bila dikembangkan akan memiliki hasil yang maksimal. Tak hanya itu, yang ingin saya sampaikan disini adalah Pelatnas bukanlah jalan satu-satunya untuk meraih kesuksesan. Banyak atlet-atlet non-pelatnas yang sukses berkarier secara professional.

Sebagai seorang penikmat bulutangkis, alangkah lebih indah apabila kita tak saling menggunjing dan merasa bahwa atlet idolanya lebih baik. Bagi bersama-sama kita doakan dan dukung mereka, agar kelak dapat menjadi atlet-atlet kebanggaan bangsa yang berprestasi di kancah Internasional. Dukung terus perbulutangkisan tanah air #SalamRaket

Rosyita Eka Putri Sari





Rosyita Eka Putri Sari lahir di Sleman 1996. Rosyita merupakan atlet ganda putri yang turut membawa Indonesia menjadi runner up di kejuaraan bulutangkis bergengsi bertajuk BWF World Junior Championships 2013 / Suhandinata Cup beberapa bulan lalu.
Nah kali ini, saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman saya berkunjung ke rumah Rosyita. Awal mulanya sebenarnya adalah karena ketidaksengajaan saya mendapatkan pin BB Rosyita. Iseng menginvite, eh ternyata di accept [padahal menurut penuturan Rosyita ia tidak pernah mengaccept orang yang tidak ia kenal. and yaa, i’m so lucky]. Dan akhirnya kami terlibat suatu obrolan yang berujung pada permintaan saya untuk berkunjung ke rumah. Karena pada saat itu Rosyita memang sedang berada di Jogja. Dan ternyata permintaan saya ditanggapi positif, Rosyita pun memberikan alamat lengkap rumahnya.

Rabu, 25 Desember 2013 saya mengajak 3 teman saya untuk ikut bertamu ke rumah Rosyita. Kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit hingga akhirnya tiba di daerah Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Di perjalanan menuju rumah Rosyita, mata saya dimanjakan oleh pemandangan hamparan sawah luas nan hijau serta bukit-bukit yang tampak kecil di sudut barat. Daerahnya begitu hijau, segar dan damai. Rumah Rosyita ini terletak di pinggir jalan jadi mudah sekali untuk dicari alamatnya. Kebetulan orangtuanya memiliki usaha toko kelontong dan perbaikan sepeda motor. Bagian depan digunakan untuk usaha sedangkan rumahnya terletak di belakangnya.

Saat itu saya dan teman saya tiba pukul 10.05, kami disambut hangat oleh kedua orangtuanya. Sang ayah dan ibunya begitu ramah. Ayah Rosyita juga sejenak menemani kami berbincang tentang karier anaknya sambil menunggu Rosyita yang saat itu sedang mandi.

Selesai mandi Rosyita pun menemui saya dan teman-teman saya, kami berbincang di ruang tamu rumahnya. Di sudut ruang tamu tampak sebuah etalase yang di dalamnya tertata rapi koleksi piala dan medali yang pernah raih. Dalam perbincangan kami Rosyita bercerita bahwa ia memang sudah gemar bermain bulutangkis sejak kecil. Rosyita kecil sering berlatih bulutangkis di balai desa daerah rumahnya. Berbeda dengan atlet lain yang dimasukkan ke klub oleh orangtuanya atas dasar keinginan orangtua, Rosyita justru meminta sang ayah untuk memasukannya ke sebuah klub bulutangkis yang bernama PB. Purnama. Disanalah Rosyita mulai serius menekuni olahraga tepok bulu angsa itu. Rosyita juga bercerita bahwa ia pernah berlatih di Pusdiklat Yogyakarta dibawah asuhan Mbak Fina. Sebagai informasi Mbak Fina yang bernama lengkap Finarsih merupakan srikandi bulutangkis Indonesia di tahun 1990an yang ikut andil merebut Piala Uber tahun 1994 dari China dan kembali mempertahankannya di tahun 1996.

Setelah berlatih dibawah asuhan Mbak Fina, Rosyita pun mengikuti audisi beasiswa bulutangkis Djarum. Lolos audisi, ia pun harus bermigrasi ke PB Djarum di Jakarta. Disanalah karier Rosyita berkembang. Berpasangan dengan Melati Daeva Oktavianti, Rosyita berhasil menjadi kampiun di Kejuaraan Nasional 2012. Hal tersebut yang membawanya masuk ke daftar penghuni Pelatnas Cipayung di akhir tahun 2012.

Tahun ini, Rosyita yang berpasangan dengan Setyana Mapasa juga menjadi ganda putri utama tim beregu di ajang bergengsi World Junior Championships 2013 di Thailand. Berpasangan dengan Maretha Dea Giovani, Rosyita yang mengaku gemar membaca novel itu juga berhasil menjadi juara di Pertamina Open 2013 setelah berhasil menekuk Nadya Melati dan Dian Fitriani. Beberapa waktu yang lalu,  PBSI mengumumkan daftar nama pemain yang dipanggil dan di degradadi oleh PBSI dan nama Rosyita masih bertengger sebagai salah satu penghuni Pelatnas untuk periode tahun ini.

Di usianya yang masih sangat muda (17 tahun) tentu prestais yang pernah diukir Rosyita dapat dikatakan gemilang. Ia bahkan sering turun di nomor pertandingan dewasa dan beberapa kali menjadi finalis maupun kampiun. Kini per tanggal 02/01/2014, Nama Rosyita Eka Putri Sari nangkring di peringkat 3, Badminton World Federation Junior Rangkings. Sedangkan bersama Melati Daeva, Rosyita duduk di ranking 58 Women's Double BWF World Rankings. Saya sangat berharap kelak Rosyita dapat menjadi atlet kebanggaan Indonesia yang menorehkan tinta emas di berbagai turnamen bergengsi di tingkat Internasional.
Begitulah sepenggal kisah perjalanan karier Rosyita yang dapat saya paparkan. Dukung terus perbulutangkisan Indonesia #SalamRaket

Minggu, 08 Desember 2013

Millicent Wiranto




Profil Millicent Wiranto
[Oleh: Erlin T. Wulandari ]

     Membicarakan mengenai olahraga bulutangkis memang tidak akan ada habisnya. Banyak sekelumit kisah di dalamnya yang menarik untuk dikulik. Mulai dari kejutan-kejutan yang terjadi di lapangan, hingga kehidupan pribadi sang aktor lapangan pun menjadi begitu menarik untuk dikulik.

   Tulisan saya kali ini ingin membahas mengenai seorang pebulutangkis muda berbakat yang memiliki paras menawan asal Indonesia bernama Millicent Wiranto. Apa yang membuat saya menarik untuk mengenal sosok Millicent Wiranto lebih dalam? Jawabannya adalah, pebulutangkis yang kerap disapa Milli ini justru memilih untuk berlatih di negeri jiran Malaysia. Tetapi meskipun demikian, Milli tetap dengan bangga mengenakan nama Indonesia di jerseynya.

      Seperti beberapa tulisan saya sebelumnya, perkenalan saya terhadap Millicent berlangsung melalui bantuan social media. Aplikasi smartphone bertajuk LINE lah yang membuat saya dapat berinteraksi langsung dengan seorang Millicent Wiranto

     Lahir di Medan pada tanggal 29 May 1993, Milli kecil dulunya adalah seorang balerina. Perkenalannya dengan dunia bulutangkis bermula ketika ia sering melihat dan menemani sang kakak yang mengikuti pelatihan bulutangkis di kota kelahirannya Medan, Sumatera Utara. Hal itulah yang kemudian membuat Milli juga tertarik untuk bermain bulutangkis.

     Milli kecil pun bergabung di klub bulutangkis di sekolahnya. Lama berlatih disana, keseriusan Milli untuk terjun di dunia bulutangkis pun kian terlihat. Dan hal itulah yang mendorong Milli untuk merantau ke Jakarta. Ya, ketika berumur 12 tahun, Milli terbang ke Jakarta dan berlabuh ke klub bulutangkis yang telah berhasil mencetak juara dunia seperti Liliyana Natsir bernama PB. Tangkas.

     Disana lah permainan Milli semakin matang, lama berlatih disana prestasi Milli pun kian terlihat. Hingga pada tahun 2011, nama Millicent Wiranto tercatat sebagai salah satu atlet yang menghuni Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur.

     Namun sayangnya tak lama di Pelatnas, di akhir taun 2012 Milli keluar dari Pelatnas dan kembali berlatih ke klubnya. Nah, ketika Milli berlatih di Pelatnas ia dilatih oleh seorang coach asal China bernama Li Mao. Sama halnya dengan Milli, coach Li Mao pun juga keluar dari Pelatnas. Coach bertangan dingin itu kemudian melatih sebuah klub bulutangkis di negeri Jiran Malaysia. Coach Li Mao lah yang kemudian mengajak Milli untuk bergabung bersamanya di Kawasaki Badminton Club atau yang disebut KBC.
Ditanya mengenai perbedaan berlatih di klub Malaysia dan Indonesia Milli menjawab

“Ya sama aja bedanya ya di pelatih aja setiap pelatih kan beda-beda cara ngelatih nya” tuturnya

     Selama 11 bulan berlatih di Malaysia, Millie tetap membawa nama Indonesia di setiap turnamen yang ia ikuti. Kecintaannya terhadap bumi pertiwi yang membuatnya kekeuh mencantumkan nama Indonesia di jersey nya. Milli menceritakan, selama ini belum pernah ada tawaran untuk bergabung memperkuat tim Malaysia. Namun ia menambahkan, meskipun nantinya ada tawaran untuk itu Milli tidak akan menerimanya. Karena ia masih ingin membawa harum nama Indonesia di kancah internasional. Ditanya mengenai harapan untuk kariernya ke depan Milli menuturkan

“Yang pasti ingin jadi  juara di kejuaraan besar dan Olympic  dan tentunya saya ingin bisa membanggakan nama Indonesia”

     Di tengah mulai pudarnya rasa nasionalisme pemuda dan pemudi tanah air, ternyata masih ada sosok seperti Millicent Wiranto yang masih begitu mencintai tanah airnya. Padahal sudah menjadi rahasia umum kalau banyak atlet-atlet bulutangkis Indonesia yang memilih berpindah kewarganegaraan dan memperkuat tim negeri orang karena berbagai pertimbangan, yang salah satunya adalah jaminan akan kehidupan yang lebih baik.

     Ya semoga saja, semua atlet-atlet Indonesia tanpa terkecuali dapat memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Agar kecintaannya terhadap tanah air tak pudar hanya dengan iming-iming rupiah.
Sekian #SalamRaket dan Dukung Terus Perbulutangkisan Tanah Air.
Jangan lupa kunjungi akun wordpress saya di www.seputarbulutangkis.wordpress.com


Senin, 02 Desember 2013

Gregoria Mariska: Berprestasi di Usia Muda



Oleh:
[Erlin T. Wulandari]

Hari ini, perhelatan akbar Kejurnas Bulutangkis 2013 memasuki hari terakhir. Turnamen yang digelar di Pulau Dewata, Bali ini menampilkan berbagai kejutan. Banyak atlet-atlet yang diunggulkan justru tersingkir di babak awal. Namun nasib tak mujur mereka rupanya tidak berlaku untuk atlet berparas cantik asal PB. Mutiara Bandung bernama Gregoria Mariska.

Jorji yang biasanya turun di level remaja selama keikutsertaannya di turnamen Djarum Sirkuit Nasional harus naik satu level ke tingkat taruna. Tentu lawan-lawan yang akan dihadapi gadis penggemar Coboy Junior ini lebih sulit.

Di babak perempat final, Jorji harus menghadapi Berlian Sudrajat, sempat unggul di set pertama, Jorji gagal mempertahankan kemenangannya di set kedua. Berlian pun memaksa untuk bermain rubber game, dengan perolehan angka yang ketat, akhirnya Jorji berhasil memperoleh satu tiket ke semifinal setelah berhasil menekuk Berlian dengan skor akhir 21-19 15-21 21-18.

Sedangkan di babak semifinal, Jorji harus menghadapi Intan Dwi Jayanti, pemain PB. Djarum yang juga memperkuat tim Indonesia di pergelaran World Junior Championships. Intan tentu bukan lawan yang mudah bagi Jorji, usia Intan yang jauh lebih tua dengannya tentu membuat jam terbang Intan lebih banyak. Jorji harus mengakui keunggulan Intan di set pertama dengan skor 19-21. Namun kerja keras dan keuletannya membuat Jorji berhasil melumpuhkan perlawanan Intan dan berhasil menutup pertandingan dengan skor akhir 19-21 21-16 21-7. Satu tiket final pun sudah dikantonginya.

Di babak final yang digelar hari Sabtu 30 Desember lalu, Jorji harus menghadapi Arinda Sari Sinaga yang juga merupakan atlet binaan PB. Djarum sama seperti lawan Jorji sebelumnya Intan Dwi Jayanti. Berhadapan dengan atlet yang 4 tahun lebih tua dengannya tentu membuat langkah Jorji menuju podium juara terasa lebih berat. Namun lagi-lagi, atlet yang sering dijuluki ratu sirnas ini kembali menunjukan permainannya yang begitu memukau. Akurasi pukulan, kerja keras, dan ketenangan dalam bertanding membuat Jorji berhasil menorehkan prestasi gemilang dalam ajang Kejurnas 2013 ini. Ya, Gregoria Mariska berhasil menjadi juara di nomor tunggal putri kategori taruna setelah berhasil menekuk Arinda Sari Sinaga dengan skor akhir 15-21 21-18 21-13.

Dengan prestasi yang ia ukir sepanjang tahun ini, tak berlebihan rasanya memberi julukan padanya si “anak ajaib”. Semoga Jorji mampu mempertahankan segala prestasi yang ditorehkannya, bahkan menjadi lebih dan lebih baik lagi. Selamat atas keberhasilannya Gregoria Mariska, Indonesia menunggu prestasimu di kancah Internasional. #SalamRaket

Kamis, 28 November 2013

Anggia Shitta Awanda: Sosok Atlet yang Dekat dengan Keluarga




Anggia Shitta Awanda merupakan salah satu pebulutangkis muda terbaik Indonesia yang kini bermain di nomor ganda. Anggi begitu sapaan akrabnya lahir di Bekasi, 22 Mei 1994. Prestasinya di dunia bulutangkis memang cukup membanggakan, beberapa kali ia mampu berdiri di podium tertinggi pergelaran Djarum Sirkuit Nasional. Sedangkan salah satu prestasi terbaiknya adalah menjadi runner-up di BWF World Junior Championships 2011 bersama Shella Devi Aulia.

Anggia merupakan putri sulung di keluarganya, ia memiliki seorang adik bernama Vionia Merryn Awanda. Rasa penasaran saya akan sosok Anggia membuat saya tertarik untuk mencari informasi tentang Anggia melalui adiknya. Menurut Vion, kakaknya itu memang suka bermain bulutangkis sejak kecil. Anggi kecil sering mengajak teman-temannya bermain bulutangkis. Hal itulah yang membuat kedua orangtuanya memasukkan Anggia kecil ke sebuah klub bulutangkis. Meskipun kedua orangtuanya tidak memiliki latar belakang atlet, namun kedua orangtua Anggi begitu mendukung karier sang putri. Ketika duduk di kelas 1 sekolah dasar, Anggi bergabung ke sebuah klub bulutangkis bernama PB. Bina Pratama.

Melihat prestasinya yang kian membaik, ketika duduk di kelas 1 SMP Anggi pun berlabuh ke klub bulutangkis yang sudah berhasil mencetak atlet-atlet handal Indonesia bernama PB. JAYA RAYA. Anggia bermain rangkap, baik di sektor tunggal maupun ganda. Namun lambat laun kepiawaian Anggi di nomor ganda lebih terlihat sehingga membuatnya lebih fokus untuk bermain di sektor ganda. Terbukti, bersama Shella Devi Aulia, Anggi mampu mempersembahkan sebuah medali perak untuk Indonesia di BWF World Championships 2011. Kini Anggi bermain di nomor ganda putri bersama Della Destiara Haris.

Sosok Anggi yang terlihat gahar di lapangan ternyata tidak berlaku ketika ia berada di luar lapangan. Atlet yang mengidolakan sosok superman itu ternyata merupakan atlet yang begitu dekat dengan keluarganya, terutama dengan Vion adiknya. Meskipun jarang bertemu karena Anggi harus tinggal di asrama, namun layaknya adek dan kakak Vion dan Anggi pun begitu dekat. Menurut Vion, Anggi merupakan sosok kakak yang baik, nggak pelit, tapi kadang suka ngeselin. Vion mengaku, sesekali ia merasa kangen dengan sang kakak, apalagi kalau Anggi sedang bertanding ke luar negeri yang memakan waktu lama. Untuk melepaskan rasa kangennya, kedua kakak beradik yang wajahnya begitu mirip ini sering berkomunikasi via Skype.


Ketika sedang ada waktu luang, kedua kakak beradik yang sama-sama mengidolakan sosok penulis muda berbakat Raditya Dika ini sering menghabiskan waktu untuk makan bersama di luar, menonton film, atau sekedar jalan-jalan dan curhat-curhatan. Vion mengaku senang dan bangga memiliki kakak seperti seorang Anggia Shitta Awanda. Harapan terbesar Vion adalah agar sang kakak dapat menjadi juara dunia secepatnya. Vion juga berharap agar Anggi tetap menjadi pribadi yang rendah hati, nggak pelit, dan makin bisa diajak kerjasama dengannya (kerjasama apa hayo? Hehehe). Selain dekat dengan sang adik, Anggi juga dekat sekali dengan mami papi nya. Rendang dan dendeng buatan sang mami pun masih menjadi makanan favoritnya. Sama halnya dengan anak-anak lain, Anggi juga sering bermanja-manjan dengan kedua orangtuanya ketika sedang berada dirumah. Menurut penuturan Vion, Anggi pun tidak merasa malu dicium orangtuanya di depan banyak orang. Padahal banyak kan, orang yang suka malu-malu gitu kalau dicium orangtuanya hehehe

Dengan usia yang baru menginjak 19 tahun, tentu kita semua berharap agar Anggia kelak dapat mengekor prestasi senior-seniornya dan dapat menjadi atlet Indonesia yang menorehkan prestasi membanggakan di tingkat Internasional. Sukses terus Anggi, jangan pernah berhenti berusaha untuk menjadi yang terbaik. Bawa harum nama Indonesia dan bawa merah putih berkibar dengan gagah di negeri orang. aminnn. #SalamRaket


Senin, 25 November 2013

Lana Adriana Sarah: Tidak Ada Kata Terlambat


Lana Adriana Sarah: Tidak Ada Kata Terlambat
( Oleh: Erlin T. Wulandari )


Lana Adriana Sarah merupakan seorang atlet putri jebolan sekolah khusus olahragawan Ragunan. Lana, begitu sapaan gadis berambut cepak itu lahir Jakarta, 10 Februari 1995 itu kini bermain di sektor ganda putri bersama Maria Natalia Kartika Mainaky.

Berbeda dengan atlet lain yang sudah menekuni bulutangkis sejak usia yang begitu dini, Lana mengaku baru bermulai bermain bulutangkis ketika duduk di kelas 6 SD. Bahkan ia menyebut dirinya sendiri “atlet telat”. Lana mulai menyukai bulutangkis dikarenakan “ikut-ikutan” tetangga bermain bulutangkis. Lana mengaku keluarganya sama sekali tidak ada latar belakang atlet. Meskipun demikian, keluarga mendukung Lana untuk serius menekuni olahraga tepok bulu angsa itu.

Lana mulai magang di SMP Ragunan ketika ia duduk di kelas 2 SMP, kemudian ketika duduk di kelas 3 SMP ia baru resmi menjadi atlet ragunan hingga tamat SMA. Setelah lulus dari SMA, kini Lana bergabung di Focus badminton club. Klub bulutangkis dibawah binaan pelatih bertangan dingin Richard Mainaky.
Gadis penyuka paru goreng itu mengaku pernah berada di titik jenuh dengan aktifitas keolahragaan yang begitu menyita waktu dan tenaga. Namun Lana mengaku, suntikan motivasi orangtuanya lah yang membuatnya tetap semangat untuk bangkit. 

Ditanya mengenai atlet idolanya, ternyata Lana mengidolakan sosok pebulutangkis asal China bernama Yu Yang. Permainan Yu Yang yang begitu memukau dan susah dikalahkan lawan-lawannya merupakan alasannya mengidolakan atlet bertubuh gempal itu. Ketika ditanya atlet dalam negeri, ternyata Lana mengidolakan sosok pemain senior spesialis nomor ganda Vita Marissa.

Dari sekilas profil Lana Adriana Sarah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu hal. Untuk adek-adek yang ingin menjadi atlet bulutangkis, nggak ada alasan lagi ya untuk tidak mau jadi atlet karena merasa sudah kalah start alias telat. Tetap semangat untuk memajukan perbulutangkisan tanah air #SalamRaket

” Tidak ada kata terlambat bagi orang yang mau berusaha dan jangan pernah dengar kata-kata orang yang berusaha menghambat kamu untuk maju “
(Lana Adriana Sarah)


Note: Terimakasih untuk wawancara singkatnya Lana

Minggu, 10 November 2013

Profil Andrew Susanto



Andrew Susanto merupakan seorang atlet tunggal putra yang juga merupakan putra semata wayang dari mantan atlet bulutangkis Indonesia bernama Hermawan Susanto dan Sarwendah Kusumawardhani. Pasangan Sarwendah dan Hermawan merupakan atlet yang gemilang di era tahun 1990-an. Prestasi tertinggi Sarwendah ialah menjadi juara dunia pada tahun 1990 setelah mengalahkan rekan senegaranya Susi Susanti. Sedangkan Hermawan, merupakan seorang atlet tunggal putra yang berhasil meraih medali perunggu pada Olimpiade Barcelona 1992. Kedua pasangan atlet bulutangkis tersebut memiliki seorang putra bernama Andrew Susanto. Melalui pesan singkat di Blackberry Messenger, Andrew bercerita panjang lebar mengenai perjalanan karier bulutangkisnya. Andrew mengaku tertarik untuk bergelut di dunia bulutangkis karena ingin meneruskan perjuangan kedua orangtuanya. Mulai bermain bulutangkis sejak umur 5 tahun, kemudian orangtuanya memasukkan Andrew ke klub PB. Mei, klub tersebut juga merupakan klub sang ibu Sarwendah semasa kecil.Ketika ditanya mengenai apakah kedua orangtua mendukung keinginannya terjun di dunia bulutangkis Andrew menjawab:
“Mendukung kok, tapi mama pengen aku sekolah tapi aku tetep nggak mau. Aku pengen jadi atlet kaya dia. Pokoknya aku berusaha dulu, masalah jadi atlet apa enggaknya Tuhan sudah menentukan” jawabnya.
Kejuaraan yang paling berkesan bagi Andrew adalah ketika ia berhasil menjadi juara Australia Junior 2013. Ketika ditanya alasannya, Andrew mengaku setelah tidak bergabung bersama PB. Djarum, Andrew harus merasakan bagaimana repotnya mengurus visa sendiri kalau bermain ke luar negeri. Namun semuanya terbalaskan ketika ia berhasil berdiri di podium tertinggi turnamen itu. Andrew menambahkan meskipun Indonesia hanya mengirim satu atlet putra dan satu atlet putri, namun ia mengaku bangga karena ia bisa mempersembahkan satu emas untuk Indonesia.
Andrew yang lahir di Jakarta 27 Juli 1996 ini berharap kelak ia dapat menjadi pemain dunia, dan bisa meneruskan semua medali yang pernah diraih oleh kedua orangtuanya dan cita-cita terbesarnya ialah ia ingin mengibarkan berdera merah putih di ajang olimpiade dan kejuaraan dunia. Never stop dreaming begitulah motto hidupnya, semoga semua cita-cita Andrew dapat tercapai. Mari kita doakan bersama-sama.