Kamis, 31 Oktober 2013

Indonesia Bangga Memilikimu Liliyana Natsir



Liliyana Natsir…
Pemain bulutangkis putri kebanggaan Indonesia ini lahir di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 9 September 1985. Liliyana Natsir merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, putri pasangan Beno Natsir dan Olly Maramis atau Auw Jin Chen. Kakaknya, Kalista Natsir merupakan seorang dokter.
Perjuangan Liliyana hingga bisa mendaki tangga kesuksesan tentu melalui perjuangan panjang. Tetesan peluh keringat, bahksan tetesan air mata menjadi bagian dari sukses kariernya saat ini. Keluarga Liliyana tidak memiliki background bulutangkis, ayah ibunya seorang pengusaha di Manado. Kecintaannya akan bulutangkis bermula saat ia sering bermain bulutangkis di halaman rumahnya. Melihat bakat sang anak, kedua orangtuanya lalu memasukkan Liliyana ke klub bulutangkis PB. Pisok Manado saat ia berumur 9 tahun. Disana bakat bulutangkis Liliyana kian terasah, namun kedua orangtuanya berpendapat kalau anaknya tetap di Manado, karier Liliyana tak akan bisa berkembang.

Kedua orangtua Liliyana memberikan opsi kepada sang putri, apakah ia ingin melanjutkan sekolah atau fokus mengejar karier di dunia bulutangkis. Karena, menurut orangtuanya, jika ia kekeuh melakukan keduanya beriringan, hasilnya tidak akan bagus. Lalu ketika Liliyana mantap memilih untuk fokus mengejar karier di bulutangkis, kedua orangtuanya mengirim Liliyana ke Jakarta untuk bergabung bersama klub PB. Tangkas. Liliyana yang saat itu baru berusia 12 tahun, harus belajar hidup mandiri. Padahal ia dikenal sangat dekat dengan orangtuanya, terlebih kepada sang mama. Bahkan banyak yang menyebutnya “anak mama”. Ketika sang mama akan kembali ke Manado, Liliyana kecil selalu menangis. Sehingga sang mama merasa iba, dan tak tega melihat putri kecilnya hidup sendiri di perantauan. Dan akhirnya, sang mama memutuskan untuk tinggal lebih lama di Jakarta dengan kos di daerah sekitar asrama PB. Tangkas agar ia dapat menjenguk sang putri sewaktu-waktu. Ya 3 bulan lamanya sang ibu rela meninggalkan sang suami dan putri sulungnya, untuk dapat menemani si bungsu Liliyana. Betapa luar biasanya perjuangan Auw Jin Chen kepada anak kesayangannya. Hingga akhirnya tiga bulan itu berlalu, Jin Chen harus sedikit egois. Ia harus melapangkan hatinya, kali ini tangisan Liliyana tak dihiraukannya. Ia ingin putrinya tumbuh jadi anak yang mandiri dan bermental baja, ia pun kembali ke Manado dengan kontroversi yang melandanya. Tak tega memang meninggalkan Liliyana, tetapi keputusan itu harus ia ambil, demi masa depan Liliyana.
Di asrama, Liliyana kerap menangis ketika merindukan keluarganya. Teman-temannya yang kala itu di dominasi warga suku Batak lalu memberi julukan padanya “Butet”. Karena kata mereka, orang yang seperti Liliyana itu kalau disana dipanggil “Butet”. Nama itulah yang kini melekat dengan sosok Liliyana Natsir, semua orang kini memanggilnya dengan julukan Butet.

Prestasi Butet bersama klubnya kian cemerlang, dan membawanya masuk ke Pelatnas PBSI di Cipayung pada tahun 2002. Butet memang dikenal sebagai pemain ganda, baik ganda putri maupun ganda campuran. Butet mengawali kariernya dengan bermain di sektor ganda putri, namun prestasinya dirasa kurang baik dan pelatihnya saat itu Richard Mainaky menawarinya untuk mencoba peruntungan bermain di sektor ganda campuran bersama Nova Widianto. Bersama Nova, karier Butet begitu cemerlang. Butet dan Kedeng (nama panggilan Nova Widianto) berhasil menduduki podium tertinggi Kejuaraan Bulutangkis dunia pada tahun 2005 dan 2007. Ya, dua kali kejuaraan dunia pernah ia raih bersama Nova. Tak hanya itu, Butet dan Nova juga banyak mengoleksi medali dari berbagai turnamen nasional maupun internasional. Butet dan Nova juga menduduki peringkat 3 besar BWF dalam jangka waktu yang cukup lama. Pada tahun 2008, Butet dan Nova juga menyumbangkan medali perak untuk squad merah putih di ajang Olimpiade Beijing. Meski gagal memenuhi target medali emas, namun Butet dan Nova merasa bersyukur atas prestasi yang diraihnya.
Nama Butet juga semakin bersinar kala gelaran Thomas dan Uber Cup yang berlangsung di Jakarta. Butet yang saat itu berpasangan dengan Vita Marissa turut mengantar tim merah putih lolos ke babak final, meski pada akhirnya harus takluk di tangan tim negeri tirai bambu China. Usai pergelaran Thomas Uber Cup, Butet dan Vita pun tampil cemerlang pada turnamen Indonesia Open 2008, keduanya berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia setelah di final berhasilnya menaklukkan pasangan ganda putri Jepang.
Ingin fokus di sektor ganda campuran, Butet kemudian bercerai dengan Vita Marissa. Bersama Nova, Butet pun tak absen mengikuti turnamen-turnamen bergengsi Internasional. Hingga akhirnya Nova Widianto memilih gantung raket, dan kemudian Pelatnas memasangkan Butet dengan pemain muda Tontowi Ahmad. Pelan tapi pasti, Butet dan Owi mulai menorehkan prestasi yang membanggakan. Bersama Tontowi, Butet berhasil meraih gelar juara secara berturut-turut di ajang bergengsi All England. Butet dan Owi bahkan meraih juara selama 3 kali berturut-turut di ajang India Open, dan puncaknya adalah ketika mereka berdua berhasil meraih gelar juara di Kejuaraan Dunia bulutangkis yang di gelar di Guangzhou, China, bulan Agustus lalu.
Butet tampak begitu senang, hingga tak menyadari bahwa air mata itu menggenangi matanya, ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya di kumandangkan. Ini merupakan gelar juara dunia pertamanya selama berpasangan Tontowi Ahmad, namun ini juga merupakan jelar juara ke TIGA nya di ajang bergengsi BWF World Championships.

Entah berapa banyak medali yang tersimpan dirumahnya, mungkin bisa jadi ratusan medali pernah ia dapatkan selama belasan tahun kariernya di dunia bulutangkis. Dengan segudang prestasi yang ditorehkannya, Liliyana layak dikatakan pahlawan bulutangkis Indonesia. Dikuti dari portal resmi bulutangkis Indonesia, Ketua Umum PB. Tangkas, Justian Suhandinata menyebutkan bahwa Liliyana Natsir patut dijadikan teladan bagi para pemain muda. Kerja keras dan segala pengorbanan yang Liliyana lakukan, harus dicontoh oleh para pemain muda. Justian tentu mengenal Butet ketika ia masih belia, dan Justian kini juga dapat melihat secara langsung buah manis dari perjuangan yang dilakukan seorang Liliyana Natsir. Namanya kini begitu harum, ukiran prestasi yang ia persembahkan bagi bangsa dan negara sungguh layak diapreasi. Namun, Liliyana Natsir dan begitu pula atlet lainnya tetaplah manusia biasa. Mereka juga bisa kalah, ia juga bisa melakukan kesalahan. Namun janganlah kalian menghinanya, karena jika anda menghina mereka disaat mereka kalah, jangan sekali-kali anda ikut bersorak ketika mereka menang.

Ya, Liliyana kini memang telah menjadi “bintang” di lapangan. Namanya begitu di elu-elukan oleh Butetholic, sebutan bagi fansnya. Di setiap pertandingan, banyak orang yang meneriak-neriakkan namanya. Butet kini tak lagi menjadi anak kecil yang cengeng ketika rindu mamanya. Butet kini menjelma menjadi sosok idola remaja, kisah hidupnya begitu menginspirasi. Butet memang layak di sebut legenda hidup bulutangkis Indonesia. Dan saya yakin, jika negara ini bisa berbicara, maka saya yakin Indonesia dengan lantang akan berkata: Indonesia bangga memilikimu, Liliyana Natsir!
Salam raket dan cintai bulutangkis Indonesia!
referensi: badmintonindonesia.org, antaranews.com dan jawaban.com

Mengenal Sosok Muhammad Bayu Bangisthu



Penyelenggaraan Indonesia Grand Prix Gold 2013 kemarin begitu membekas di hati saya. Pasalnya setelah sekian lama menggemari olah raga tepok bulu angsa itu, saya baru berkesempatan menonton pertandingan bulutangkis level Internasional pada saat Indonesia Grand Prix Gold 2013. Senang rasanya ketika melihat para atlet yang tadinya hanya dapat saya lihat melalui lacar kaca dapat kita lihat secara langsung. Dan, kala itu mata saya tertuju pada seorang pemain muda berparas tampan bernama Muhammad Bayu Pangisthu.
Jujur, inilah kali pertama saya melihat sosok Bayu secara langsung. Dengan skill yang memadai,wajah rupawan dan postur tubuh yang tinggi membuat siapapun wanita mudah jatuh hati padanya. Ya, parasnya yang menyerupai bintang Korea mampu membius hati para Badminton Lovers Indonesia. Hal itu pula yang membuat saya penasaran akan sosok seorang M. Bayu Pangisthu. Hingga proses pengintaian itu saya dan teman saya lakukan. Hingga akhirnya, saya berhasil mewawancarai singkat kakak Bayu, bernama Rury Octari Dinata melalui social media bertajuk LINE.
Muhamaad Bayu Pangisthu lahir di Medan, 24 Februari 1996. Menurut Rury Octari, keluarga mereka tidak ada latar belakang bulutangkis. Ketika ayahnya ditugaskan ke kota Jogja, Bayu yang saat itu masih duduk di TK sudah mulai mengenal bulutangkis. Kala itu bayu sudah mencoba-coba memegang raket. Namun Bayu belum berencana menekuni olahraga bulutangkis karena ia masih senang bermain sepak bola. Lalu ketika pindah lagi ke Medan, saat itu Bayu duduk di kelas 3 SD. Dan di sekolahnya sedang gencar-gencarnya diterapkan sistem ekstrakulikuler. Nah, dari situ Bayu memilih untuk masuk ekskul bulutangkis di sekolah. Dari situlah bakat Bayu mulai tampak. Guru olahraganya berkata pada orangtua Bayu kalau Bayu memang punya bakat bulutangkis. Menurut sang kakak, Bayu kecil diajak gurunya mengikuti lomba bulutangkis antar sekolah dan hasilnya sangat menggembirakan. Ya, Bayu memenangkan pertandingan itu sampai akhirnya ia direkomendasikan untuk mengikuti latian rutin bulutangkis.Lama menjalani latian privat, Bayu pun akhirnya masuk ke salah satu klub bulutangkis di Medan.
Lalu, pada tahun 2009 Djarum mengadakan seleksi beasiswa bulutangkis. Dengan tekadnya yang sudah kuat, Bayu mengikuti seleksi itu dan setelah melalui beberapa tahap seleksi akhirnya ia lolos dan resmi menjadi atlet binaan PB. Djarum di Kudus. Sang kakak menambahkan dari dulu Bayu memang sudah mempunyai cita-cita dan mimpi. Setiap kali pulang latihan atau ketika ingin berangkat latihan, waktu mandi dia selalu bernyanyi dengan lirik “djarum rumahku….pelatnas tujuanku…”. Lirik yang sering ia nyanyikan itu ternyata berbuah manis, kurang lebih setahun yang lalu Bayu resmi menjadi atlet yang mendiami Pelatnas Cipayung. Nah, buat adek-adek junior, boleh tuh meniru cara kak Bayu. Menyanyikan mimpi dan cita-citanya, siapa tau mimpi yang dinyanyikan bisa terwujud.
Setelah membicarkan sepenggal perjalanan karier Bayu, saatnya kita mengenal pribadi Bayu lebih dekat. Menurut sang kakak, Bayu itu sosok anak yang jail dan usil sekali. Kakaknya menambahkan kalau tidak wajar rasanya kalau tidak ada suara jeritan, disaat Bayu berada dirumah. Tetapi sekarang Bayu sudah tumbuh menjadi anak yang mandiri, secara pemikiran dia lebih dewasa. Berbeda dengan dulu, Bayu kecil merupakan sosok yang manja, makan saja harus disuapin dan apa-apa harus disedian ibu. Selain itu Bayu itu orangnya royal, tidak pandang bulu siapa saja yang datang kerumah pasti dibeliin makanan. Lalu, setiap pergi kemana saja, Bayu selalu membawa buah tangan. Anak kedua dari 3 bersaudara ini juga merupakan sosok yang begitu dekat dengan keluarga. Meskipun setelah memutuskan masuk ke PB. Djarum dan masuk Pelatnas intensitas bertemu dengan keluarganya tentu berkurang. Namun ia terus menjalin komunikasi dengan keluarganya
Selain bulutangkis, Bayu ternyata juga memiliki hobby lain. Beberapa diantaranya adalah futsal, sepak bola, main playstation, dan nyanyi di kamar mandi. Kalau urusan makanan, Bayu memiliki banyak sekali makanan favorit seperti nasi padang, ikan sambel, dendeng balado, rendang, sate kerang, kerang rebus, sayur asem dan sate padang. Wah, banyak sekali makanan favoritnyaaaa…
Mengenai status, kata sang kakak saat ini Bayu masih jomblo. Namun keluarganya malah mendukung status jomblonya Bayu, keluarga beranggapan dengan statusnya yang jomblo, Bayu jadi lebih bisa fokus sama karier bulutangkisnya. Nah, buat yang mau daftar jadi pacarnya Bayu, sabar yah. Biarkan Bayu fokus mengejar cita-citanya dulu.
Demikian, sepenggal kisah mengenai Muhammad Bayu Pangisthu. Semoga menambah wawasan anda mengenai sosoknya. Doakan saja, semoga karier Bayu kian cemerlang. Dan dapat mengekor prestasi seniornya, Taufik Hidayat. Sukses selalu Bayu, masa depanmu masih panjang. Terus berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia ya!
Note: Big thanks to Kak Rury Octari Dinata atas waktunya.

Vita Marissa, Legenda Hidup Bulutangkis Indonesia



Vita Marissa..
Nama tersebut tentu sudah tak asing bagi para pecinta bulutangkis tanah air. Kiprah Vita Marissa dalam perbulutangkisan tanah air tentu sudah diketahui oleh khalayak ramai. Atlet senior Indonesia spesialis nomor ganda ini, lahir di Jakarta pada tanggal 04 Januari 1981. Vita Marissa mulai menggemari bulutangkis di usia 6 tahun, hal itu yang membuat sang ayah Aris Harsono mulai melihat bakat yang tumbuh dalam diri putri bungsunya. Hingga akhirnya ketika umur 8 tahun, sang ayah memasukkan Vita kecil ke salah satu klub bulutangkis di Jakarta. Sempat berpindah-pindah klub, pada tahun 1993 atau di usianya yang menginjak 12 tahun, ia bergabung di PB. Tangkas. Menunjukkan progress yang baik, pada tahun 1996 pun Vita Marissa resmi bergabung menjadi atlet binaan Pelatnas Cipayung.
Vita Marissa sempat bergonta ganti pasangan, tercatat beberapa nama besar pernah menjadi partnernya di lapangan. Dan pada tahun 2001, bersama Deyana Lomban, Vita mampu berdiri di podium teratas Indonesia Open. Selain itu Vita Marissa juga pernah berpasangan dengan mantan Juara Dunia Ganda Campuran 2005 dan 2007, Nova Widianto. Bersama Nova, Vita mampu menduduki peringkat 5 besar BWF. Namun, bukan manusia namanya kalau tidak pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Vita Marissa sempat mengalami cedera bahu yang cukup parah di tahun 2004, hal tersebut membuat performanya tak sempurna. Di Olimpiade Athena 2004 yang ia ikuti bersama Nova, langkah mereka terhenti di babak perempat final. Cederanya tersebut memaksa Vita untuk melakukan operasi dan harus rehat sejenak dalam dunia bulutangkis. Ia juga harus menerima nasib, kalau ia harus diceraikan dengan partnernya saat itu Nova Widianto. Bercerai dari Vita Marissa, Nova Widianto pun kemudian dipasangkan dengan Liliyana Natsir.
Pulih dari cedera, semangat Vita Marissa begitu membara. Ia pun kemudian dipasangkan dengan Flandy Limpele. Bersama Flandy, Vita mampu menorehkan prestasi gemilang, diantaranya: Juara Japan Open 2006, Juara Indonesia Open 2007, Juara Singapura Open 2007, Juara Prancis Open 2007, Juara Taiwan Open 2007, Juara SEA Games 2007, Juara Asia 2008, Juara India Open 2009. Vita dan Flandy juga menjadi semifinalis di ajang bergengsi Olimpiade Beijing 2008.
Selain itu, Vita Marissa juga pernah dipasangkan dengan Liliyana Natsir. Kedua bahkan pernah menyabet medali emas di ajang China Master 2007, setelah berhasil menumbangkan pemain negeri tirai bambu yang berlaku sebagai tuan rumah. Vita dan Butet, panggilan akrab Liliyana juga tampil begitu mempesona diajang Uber Cup 2008 yang di gelar di Indonesia. Keduanya mampu mengantar tim putri tanah air melaju ke babak final, meskipun pada akhirnya mereka harus puas menyandang gelar runner up setelah tak mampu membendung perlawanan tim negeri tirai bambu yang begitu luar biasa. Tak lama setelah itu, Vita dan Liliyana juga mampu mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di ajang Indonesia Open Super Series 2008, setelah di babak final mampu mengalahkan pasangan dari Jepang. Selain nama-nama tersebut, Vita juga tercatat pernah berpasangan dengan Devin Lahardi, Nadya Melati, Mona Santoso, Greysia Polii, Hendra Aprida Gunawan, Muhammad Rijal, dll.
Tahun ini, Vita Marissa genap berumur 32 tahun. Usia yang bisa dibilang tak lagi muda. Namun semangat dan motivasinya sungguh luar biasa. Meskipun banyak atlet seusianya yang memilih gantung raket, Vita Marissa masih berkontribusi untuk olahraga yang telah melambungkan namanya. Vita kini masih eksis di dunia perbulutangkisan, bahkan ia bermain rangkap di sektor ganda putri dan ganda campuran. Di sektor ganda putra, Vita kini berpasangan dengan Praveen Jordan. Sedangkan di sektor ganda putri, Vita kini berpasangan dengan atlet asal Kota Malang, Variella Aprilsasi Putri Lejarsari. Bermain dengan pemain muda, tentu bukan hal yang mudah baginya. Sebagai senior, Vita harus berperan ganda. Tak hanya sebagai pasangan di lapangan, Vita juga harus berperan sebagai teman baik di dalam dan di luar lapangan bagi partnernya, Vita juga terkadang harus mampu menjadi mentor yang memberikan arahan-arahkan bagi juniornya. Meskipun demikian Vita tak lantas bersikap bak diktator. Ia berusaha agar partnernya tak “takut” dengan nama besarnya. Karena kalau tidak ada kedekatan serta chemistry diantara kedua, tentu mereka tak dapat bermain dengan nyaman.
Pada tahun ini pun Vita berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan pasangan “muda” nya tersebut. Bersama Lala, sapaan akrab Variella Aprilsasi, mereka mampu menjadi juara di ajang Australia Open Grand Prix 2013. Sedangkan bersama Jordan, Vita mampu mempersembahkan 3 gelar di tahun ini, yaitu dia ajang New Zealand Grand Prix 2013, Malaysia Open Grand Prix 2013 serta yang terakhir Vita dan Jordan berhasil menjadi juara di ajang Indonesia Grand Prix Gold 2013 yang digelar di kota Yogyakarta akhir bulan lalu, setelah di final berhasil mengalahkan Juara Dunia 2013 sekaligus mantan partnernya Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad.
Kebetulan saat itu saya turut menyaksikan ajang Indonesia Grand Prix Gold 2013, dan itu merupakan kali pertama saya bertemu dengan seorang Vita Marissa. Dengan nama besar yang disandangnya, ternyata tak lantas membuat Vita Marissa menjadi pemain yang sombong. Vita bahkan begitu ramahnya bersedia melayani permintaan para fans untuk berfoto dan tanda tangan. Dan saya merupakan salah satu orang yang beruntung befoto dengan pebulutangkis senior tanah air. Vita bak sosok pahlawan masa kini dengan segala kerendahan hati. Belasan tahun ia berkiprah di dunia bulutangkis, dan belasan tahun pula jutaan peluh keringat berjatuhan kala ia berusaha mengharumkan nama negara dengan prestasinya dalam olah raga tepok bulu angsa. Sebagian besar hidupnya ia tuangkan untuk bulutangkis. Ya, Vita Marissa hidup untuk bulutangkis. Torehan prestasinya membuat kita dan saya khususnya merasa bangga. Bangga rasanya negeri ini memiliki sosok pahlawan olahraga yang begitu bersahaja. Dengan semua prestasi yang di ukirnya, Vita Marissa memang layak di sebut “Legenda Hidup Bulutangkis Indonesia”.
Terima kasih atas segala kontribusimu untuk bulutangkis Indonesia, Ci Vita. Sukses untuk kariermu bersama pasanganmu kini. Janganlah lelah berjuang demi nama baik bangsa, dan saya yakin namamu terukir indah di relung hati para pecinta bulutangkis Indonesia.
Salam raket! Dan terus cintai bulutangkis Indonesia!
Referensi: antaranews, bulutangkis.com, djarumbadminton.com, badmintonindonesia.org

Senin, 27 Mei 2013

Paras Ayu Putri Konglomerat

Paras Ayu Putri Konglomerat??
Mungkin untuk para reade agak heran ketika saya memberi judul itu pada postingan blog saya.
Kebetulan sudah sejak lama saya suka sekali membaca biografi tokoh-tokoh sukses.
Saya juga orangnya kepo, jadi suka cari tau kehidupan pribadi mereka.
Apalagi anak-anaknya, senang sekali ketika melihat seorang tokoh yang tidak hanya sukses di karier tapi juga sukses di kehidupan keluarganya.
Oleh karena itu kali ini saya akan memposting sosok dibalik kesuksesan seorang tokoh, tiada lain tiada bukan adalah anaknya.
Nah berikut ini beberapa putri konglomerat yang berparas ayu:

1.Valencia Herliani Tanoesoedibjo
 [Putri ke-2 CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo]






 2. Clarissa Herliani Tanoesoedbjo
     [Putri ke-4 CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo]

Clarissa and Jessica Tanoesoedibjo

Clarissa and Daddy


 3. Jessica Herliani Tanoesoedibjo
[Putri ke-3 CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo]



4. Angela Herliani Tanoesoedibjo

[Putri ke-1 CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo]



5. Karen Vendela Hosea
[Putri Hartono Hosea sekaligus cucu Alm. Sundoro Hosea Pendiri Sun Motor Group]




Itulah beberapa foto putri konglomerat yang berparas ayu. Semoga bisa menghibur..

Much Love,
Erlin








Kamis, 09 Mei 2013

POOFY!!

Kalian pasti sudah biasa liat fashionphotos orang-orang ganteng maupun cantik.
Namun apa jadinya kalo boneka yang menjadi objek foto?
Nah, kali ini saya iseng menjadikan boneka saya menjadi objek foto.
Tidak memakai kamera professional sih, tapi hasilnya lumayanlah (lumayan jelek maksudnya)
Sebelumnya perkenalkan, boneka yang akan menjadi "model" itu bernama Poofy.
Dia adalah boneka pemberian kakak saya ketika saya berulangtahun ke-14 (kalo gasalah)
Tanpa ba-bi-bu lagi, inilah foto-foto si Poofaaaay












much love from Poofeeey :3


Kamis, 31 Januari 2013

Sepiring Steak Dari Mama


Untuk pertama kalinya saya memberanikan diri saya untuk memposting satu dari beberapa cerpen absurd saya. Ceritanya emang standar, tetapi dijamin keorisinilitasnya. Selamat membaca, kritik dan saran saya terima dengan senang hati.



Sepiring Steak Dari Mama
Oleh: Erlin Wulandari

“Syabil berangkat dulu ya, Ma.” teriak Syabil nyaring

Gadis kecil yang baru berusia 7 tahun itu memang begitu menggemaskan. Syabila Zahira, begitu nama lengkapnya. Namanya memiliki arti bintang berkilauan. Begitu indah bukan? Yah, orangtuanya mengharapkan agar Syabil kelak menjadi bintang yang menyinari keluarganya.

Syabil hanya tinggal berdua bersama ibunya, Farida Rumaisha. Ayah Syabil meninggal sejak ia berusia 2 tahun. Ayahnya mengalami komplikasi penyakit, hingga akhirnya tutup usia di umur 30 tahun. Sejak ayahnya meninggal, keluarga itu mendapatkan cobaan bertubi-tubi. Hutang keluarga itu menumpuk untuk membiayai pengobatan ayah Syabil. Hingga rumah mereka pun lenyap untuk memenuhi hutang-hutang itu. Dulu sebelum ayahnya meninggal keluarga Syabil merupakan keluarga berkecukupan. Ayahnya memiliki usaha konfeksi, namun bisnis itupun tutup karena uang usaha terpakai untuk biaya rumah sakit.
Kini, Syabil dan mamanya tinggal di rumah petak berukuran 4mX6m. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ibu Farida berdagang gorengan. Meskipun untung yang didapatkan tidak seberapa, namun itulah salah satu cara agar keluarga kecil mereka tetap bisa bertahan hidup.
“Hati-hati sayang, belajar yang pinter yaa” jawab mama.


            Pulang sekolah, Syabil membantu mamanya membuat gorengan. Mengupas kulit pisang, mengupas kulit singkong, dan mengupas bawang adalah hal yang rutin ia lakukan. Ia pun sering ikut sang mama menjajakan gorengan.
            “Mama... Syabil udah selesai ngupasnya.”
            “Pinter sekali anak mama, sekarang Syabil ngerjain PR dulu. Katanya nanti mau ikut mama dagang keliling” sahut mama
            “Okeee, Ma.”

Tepat pukul 16.00, Syabil dan mamanya berjalan menyusuri jalanan-jalanan sempit di kampungnya. Satu demi satu gorengan laku terjual. Senyuman tulus selalu mengembang dari bibir mungil Syabil. Hingga akhirnya setelah rasa lelah itu tiba, mama mengajak Syabil untuk beristirahat sejenak di depan sebuah rumah makan. Rupanya, bangunan itu merupakan restaurant yang menjajakan steak. Sesekali Syabil melirik kearah orang-orang yang sedang menikmati steak itu. Sang mama yang melihatnya lalu berkata
            “Sebentar lagi mama ulangtahun, besok mama traktir Syabil makan steak sepuasnya. Sekarang kita jualan dulu ya sayang” ucap mama
            “Beneran, Ma?? Asikkkk, Syabil janji bakal lebih rajin bantuin mama jualan”

Mata ibu Farida pun berkaca-kaca, ia sedih. Bahkan hanya untuk membelikan sepiring steak untuk anak semata wayangnya pun ia tak mampu. Namun, bagaimana dengan janji yang barusan ia lontarkan? Bagaimana mungkin ia bisa menraktir Syabil makan sepuasnya? Ia bahkan belum mampu membayar uang sewa kontrakan, sudah dua bulan ini ia menunggak uang kontrakan. Dan kata pemilik kontrakan itu, kalau bulan depan ia tak dapat membayar. Ia dan Syabil terpaksa harus angkat koper.


Malam pun datang menjelang, Syabil pun sudah bersiap untuk tidur. Sebelum tidur Syabil selalu mengusap-usap celengan kodok kesayanganya. Sebulan lalu ibunya memberikan celengan itu sebagai hadiah karena Syabil mendapatkan peringkat 1 di kelasnya. Koin demi koin ia masukkan mulut Froggy (nama celengan Syabil). Ia berharap koin-koin yang ia kumpulkan dapat terkumpul banyak agar ia bisa membelikan rumah untuk mamanya.

            “Mama, besok kalo celengan Syabil banyak. Syabil mau beliin mama rumah, beliin mama baju baru trus Syabil juga mau ajak mama makan steak setiap hari hehehe” canda Syabil
            “Aminnn, makanya Syabil jangan lupa sholat dan berdoa sama Allah. Biar keinginan Syabil bisa terwujud.” Jawab mama
            “Iya Ma, Syabil berdoa terus kok. Syabil selalu berdoa sama Allah biar Syabil bisa punya uang yang banyaaaaak” sahut Syabil

Ibu Farida hanya dapat memeluk Syabila, putri yang amat ia sayangi. Dalam setiap doanya ibu Farida selalu memohon kepada Tuhan akan dapat membahagiakan putrinya itu. Ia ingin Syabil menikmati masa-masa kecilnya seperti anak-anak lain, bukan malah mengikutinya berdagang setiap hari.


Hari ini ibu Farida sedang tidak enak badan, tubuhnya panas. Badannya lemas. Namun dengan susah payah ia tetap membuat gorengan untuk dijual. Melihat wajah sang mama yang tampak begitu pucat, Syabil menghampiri mama yang sedang berkutat di depan kompor.

            “Mama kenapa? Mama sakit ya? Udah mama istirahat aja, nanti biar Syabil yang jualan. Mama sekarang duduk dulu, biar Syabil buatkan teh hangat” ucap Syabil

Tanpa berkata-kata mama hanya melontarkan senyuman. Ia bangga. Amat bangga. Anaknya tumbuh menjadi anak yang lebih dewasa dibanding umurnya. Sejak kecil Syabil memang terbiasa hidup susah. Namun ia sama sekali tak pernah mengeluh. Bahkan selalu memberikan keceriaan baginya. Syabila memang seperti Bintang. Bintang yang senantiasa membuat orang yang melihatnya tersenyum. Bintang yang senantiasa menyinari hari-hari ibu Farida.

            “Syabil berangkat ya, Ma. Doain Syabil biar gorengannya habis semua. Mama istirahat di rumah. Dadaaa Mamaaaa” ucap Syabil sumringah
            “Hati-hati ya sayang, jangan lupa berdoa dulu sebelum jalan”

Gadis kecil itu pun dengan suka cita membawa baskom kecil berisi gorengan buatan mamanya. Rumah demi rumah. Jalan demi jalan ia lalui.

            “Gorengan gorengan... gorengan hangat 500 aja” teriak Syabil

Seribu, duaribu, tiga ribu, ............... tigapuluhdua ribu.
Syabil tampak menghitung uang sambil duduk di bawah pohon jambu. Gorengannya habis tak bersisa. Wajahnya berseri-seri, dengan wajah penuh bangga ia berjalan pulang ke rumah. Ia tak sabar membawa kabar gembira ini, kabar gembira bahwa gorengannya habis semua. Ia yakin sang mama pasti senang mendengar berita ini.


Beberapa langkah lagi Syabil tiba dirumahnya.
Senyum yang mengembang dibibirnya berubah menjadi wajah penuh ketakutan. Sepertinya ada suara orang berteriak-teriak yang bersumber dari rumahnya. Apa yang terjadi? Ya Allah, lindungilah Mama. Syabil takut .....


            “Cepat bayar uang kontrakan!! Dari kemaren kalo ditagir tarsok tarsok terus. Entar besok entar besok. Kamu pikir kamu tinggal disini gratis??!!! Disana banyak yang ngantri mau ngontrak disini. Kalau kamu nggak bisa bayar cepat kemasi barang kamu!!!!!” teriak bu Maesaroh, pemilik kontrakan.
            “Saya janji besok pagi akan saya bayar, Bu. Tolong jangan usir saya. Saya mohon, Bu.” Pinta mama
            “Halaah, saya udah nggak percaya sama janji kamu!!” jawab bu Mae sambil merampas dompet mama.
            “Jangan ambil uang itu, Bu. Uang itu akan saya pakai untuk membeli steak buat anak saya” ucap mama sambil menangis
            “Halahh, mau bayar kontrakan aja nggak bisa. Pakai gaya-gayaan makan steak.” Sahut bu Mae sambil mendorong ibu Farida hingga tersungkur di lantai.


Mama tertunduk lesu sambil sesekali mengusap air matanya. Ia sudah berjanji membelikan steak untuk Syabil. Ia merasa gagal. Ia merasa gagal menjadi ibu yang baik bagi Syabil. Ia tak bisa membahagiakan anaknya. Ia tak bisa memenuhi janjinya. Ia tak bisa membelikan Syabil steak. Makanan yang sudah lama sekali ingin Syabil nikmati.

            “Mamaaaaaaa......” teriak Syabil sambil menangis memeluk mamanya.

Rupanya daritadi Syabil berdiri dibalik pintu. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sang mama. Satu-satunya orang yang ia sayangi dimaki-maki. Ia melihat usaha mamanya mempertahankan dompetnya. Hanya karena sang mama ingin memenuhi janjinya membelikan steak kepada Syabil di hari ulangtahunnya.

“Syabil udah pulang sayang?? Bagaimana dagangannya? Wah rupanya habis semua ya dagangannya. Anak mama memang hebat!” ucap Mama sambil menghapus air matanya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan anaknya.
“Mama nggak kenapa-kenapa kan? Mama baik-baik aja kan? Syabil sayang sama mama” ucap Syabil yang enggan lepas dari pelukan sang mama.
“Mama nggak kenapa-kenapa kok sayang, ini buktinya mama masih bisa meluk Syabil” ucap mama sambil mengusap dahi Syabil.


Keesokan harinya...

“Selamat ulangtahun, Mama. Syabil sayaaaaaaaang banget sama Mama” ucap Syabil sambil mendaratkan kecupak di kening sang mama.
            “Terimakasih sayang, mama juga sayaaaaaaaaang banget sama Syabil” jawab mama sambil memeluk hangat sang buah hati.

Yaa, hari ini ibu Farida Rumaisha genap berusia 32 tahun. Usia yang masih terbilang muda. Namun, kehidupan yang begitu sulit membuatnya tampak lebih tua. Ia tak ada waktu untuk berdandan layaknya wanita seumurannya. Bahkan tidak pernah terbesit dalam kepalanya untuk mencari pendamping baru. Baginya hidupnya hanya untuk Syabil, untuk anak semata wayang yang begitu ia kasihi.

Mama tak dapat menyembunyikan raut wajah sedihnya. Melamun menatap wajah Syabila yang begitu menyejukkan. Merasa bersalah. Sungguh.

“Kok mama sedih sih?? Mama kan lagi ulangtahun?” tanya Syabil polos
“Maafin mama ya sayang, mama nggak bisa nepatin janji mama. Tapi mama janji. Secepatnya mama bakal beliin Syabil steak” jawab mama
“Asiiikkk. Oh iya, ma. Mama kan hari ini ulangtahun. Syabil ada hadiah buat mama. Nih!” ucap Syabil sambil memberikan hadiah itu.

Ternyata Syabil memberikan Froggy, celengan kodok kesayangannya. Froggy tampak lebih cantik dengan balutan pita di atasnya. Syabil sendiri loh yang memasang pita itu.
Mama tampak bingung setelah menerima kado itu.

“Mama harus terima kado dari Syabil. Kan kalau Froggy dipecah, mama bisa traktir Syabil makan steak. Jadi mama nggak perlu sedih lagi” ucap Syabil sumringah

Mama menitikkan air matanya, terharu mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut gadis kecilnya.

“Ini kan celengan kesayangan Syabil, jadi Syabil simpen aja. Besok kalo celengan ini udah banyak kan Syabil mau beliin rumah buat mama” ucap mama




“Pokoknya ini buat mama, mama nggak boleh nolak!” sahut Syabil
“Tapi kan ....”
“Mama harus terima!!!” ucap Syabil memaksa
“Terimakasih sayang, mama bangga sama Syabil. Mama sayaaaang sekali sama Syabil. Maafin mama ya, mama belum bisa jadi mama yang baik buat Syabil” ucap Mama
“Siapa bilang?? Mama itu mama yang paling hebat di dunia!! Ayooo buruan mama ganti baju. Syabil udah nggak sabar pengen makan steak, Ma” sahut Syabil.


Syabil dan mama berjalan dengan penuh sukacita. Setibanya di restaurant tanpa ba-bi-bu mama langsung memesan steak. Syabil nampak senang sekali, begitu pula dengan mama. Sebelum menyantap steak lezat itu, dalam hati mama berkata Terimakasih ya Allah, terimakasih telah memberikan anak yang berhati mulia kepadaku. Bimbinglah aku agar dapat menjadi ibu yang baik baginya..

            “Sekali lagi, selamat ulang tahun mama. Makasih ya mama udah beliin Syabil sepiring steak ini. I love you mama...” ucap Syabil
            “Terimakasih atas kadonya sayang, love you too” jawab mama

Syabila dan Mama pun menyantap steak itu dengan lahapnya.
Sepiring steak dari mama, akan menjadi kenangan terindah bagi Syabil.